Show simple item record

dc.contributor.authorChandra, Faisal
dc.date.accessioned2026-07-23T03:43:28Z
dc.date.available2026-07-23T03:43:28Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/64809
dc.description.abstractAndonk Coffee Roastery merupakan UMKM yang bergerak di bidang pengolahan biji kopi, namun dalam proses produksinya masih ditemukan tingkat kecacatan produk yang cukup tinggi. Permasalahan utama yang dihadapi meliputi biji kopi pecah, biji kopong, biji menghitam, dan biji berlubang, melalui dampak penurunan kualitas produk serta kerugian produksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian kualitas belum berjalan secara optimal dan memerlukan pendekatan yang sistematis dan terukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis cacat dominan pada produk biji kopi, menganalisis faktor penyebab terjadinya kecacatan, serta mengukur tingkat kapabilitas proses produksi menggunakan indikator Defects Per Million Opportunities (DPMO). DPMO digunakan karena mampu menggambarkan tingkat peluang terjadinya cacat dalam satu juta kesempatan secara kuantitatif, sehingga menjadi ukuran penting dalam mengevaluasi kinerja kualitas proses produksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Six Sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Pemilihan metode Six Sigma dilakukan karena metode ini tidak hanya mengidentifikasi cacat seperti metode Statistical Quality Control (SQC), tetapi juga mampu mengukur tingkat kapabilitas proses, menentukan prioritas perbaikan secara terstruktur, serta berorientasi pada penurunan cacat secara berkelanjutan hingga mendekati zero defect. Fokus utama dari penelitian ini adalah pada cacat produk biji kopi yang pecah. Terdapat empat faktor utama yang diidentifikasi, yaitu manusia, metode, lingkungan, dan mesin, berdasarkan analisis menggunakan fishbone diagram. Selama bulan Juni hingga November 2025, UMKM Andonk Coffee Roastery berhasil memproduksi total 1725 produk biji kopi, namun ada 390 produk yang mengalami cacat selama proses produksi, yang berarti persentase cacat dari seluruh produk mencapai 22,6%. Hasil perhitungan yang dilakukan menggunakan metode Six Sigma menunjukkan rata-rata nilai DPMO dari bulan Juni hingga November 2025, yaitu 56725,16 DPMO dan nilai sigma sebesar 3.11. Batas presentase cacat perusahaan adalah 10%. Berdasarkan data yang diperoleh, data tersebut berada di atas batas presentase cacat perusahaan. Berdasarkan metode 5W+1H, Terdapat saran perbaikan yang mencakup penerapan penutup lingkungan untuk mengurangi panas, penyusunan prosedur operasional standar untuk UMKM Andonk Coffee Roastery, pelaksanaan pekerjaan di ruang tertutup untuk menjaga suhu, dan memastikan stabilitas suhu ruangan. Dengan demikian, saran perbaikan yang telah diterapkan dapat mengurangi cacat pada produk biji kopi yang akan diproduksi.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectSix Sigmaen_US
dc.subjectDMAICen_US
dc.subjectDPMOen_US
dc.subjectPengendalian Kualitasen_US
dc.subject5W+1Hen_US
dc.titleAnalisis Pengendalian Kualitas Produk Menggunakan Pendekatan Six Sigma (Studi Kasus: UMKM Andonk Coffee Roastery)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM19522345


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record