Analisis Pengendalian Kualitas Produk Menggunakan Pendekatan Six Sigma (Studi Kasus: UMKM Andonk Coffee Roastery)
Abstract
Andonk Coffee Roastery merupakan UMKM yang bergerak di bidang pengolahan biji kopi,
namun dalam proses produksinya masih ditemukan tingkat kecacatan produk yang cukup
tinggi. Permasalahan utama yang dihadapi meliputi biji kopi pecah, biji kopong, biji
menghitam, dan biji berlubang, melalui dampak penurunan kualitas produk serta kerugian
produksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian kualitas belum berjalan secara optimal
dan memerlukan pendekatan yang sistematis dan terukur. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi jenis cacat dominan pada produk biji kopi, menganalisis faktor penyebab
terjadinya kecacatan, serta mengukur tingkat kapabilitas proses produksi menggunakan
indikator Defects Per Million Opportunities (DPMO). DPMO digunakan karena mampu
menggambarkan tingkat peluang terjadinya cacat dalam satu juta kesempatan secara kuantitatif,
sehingga menjadi ukuran penting dalam mengevaluasi kinerja kualitas proses produksi. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Six Sigma dengan tahapan DMAIC (Define,
Measure, Analyze, Improve, dan Control). Pemilihan metode Six Sigma dilakukan karena
metode ini tidak hanya mengidentifikasi cacat seperti metode Statistical Quality Control
(SQC), tetapi juga mampu mengukur tingkat kapabilitas proses, menentukan prioritas
perbaikan secara terstruktur, serta berorientasi pada penurunan cacat secara berkelanjutan
hingga mendekati zero defect. Fokus utama dari penelitian ini adalah pada cacat produk biji
kopi yang pecah. Terdapat empat faktor utama yang diidentifikasi, yaitu manusia, metode,
lingkungan, dan mesin, berdasarkan analisis menggunakan fishbone diagram. Selama bulan
Juni hingga November 2025, UMKM Andonk Coffee Roastery berhasil memproduksi total
1725 produk biji kopi, namun ada 390 produk yang mengalami cacat selama proses produksi,
yang berarti persentase cacat dari seluruh produk mencapai 22,6%. Hasil perhitungan yang
dilakukan menggunakan metode Six Sigma menunjukkan rata-rata nilai DPMO dari bulan Juni
hingga November 2025, yaitu 56725,16 DPMO dan nilai sigma sebesar 3.11. Batas presentase
cacat perusahaan adalah 10%. Berdasarkan data yang diperoleh, data tersebut berada di atas
batas presentase cacat perusahaan. Berdasarkan metode 5W+1H, Terdapat saran perbaikan
yang mencakup penerapan penutup lingkungan untuk mengurangi panas, penyusunan prosedur
operasional standar untuk UMKM Andonk Coffee Roastery, pelaksanaan pekerjaan di ruang
tertutup untuk menjaga suhu, dan memastikan stabilitas suhu ruangan. Dengan demikian, saran
perbaikan yang telah diterapkan dapat mengurangi cacat pada produk biji kopi yang akan
diproduksi.
Collections
- Industrial Engineering [3109]
