Analisis Pengaruh Berbagai Metode Pencampuran Terhadap Karakteristik dan Umur Layan Perkerasan Stone Matrix Asphalt (SMA) Berfiller Fly Ash Batu Bara
Abstract
Campuran Stone Matrix Asphalt (SMA) terus dikembangkan melalui pemanfaatan material
alternatif, salah satunya filler limbah Fly Ash (FA) batu bara, untuk meningkatkan kinerja campuran
sekaligus mendukung keberlanjutan. Namun, penelitian Prasetya (2024) menunjukkan bahwa
penggunaan metode pencampuran konvensional menyebabkan penurunan kinerja campuran pada
setiap variasi kadar FA. Kondisi tersebut diduga akibat distribusi aspal terhadap agregat dan filler
yang kurang merata sehingga ikatan antar material menjadi kurang optimal. Oleh karena itu,
diperlukan inovasi metode pencampuran, seperti metode dua tahap dan tiga tahap, untuk
meningkatkan homogenitas campuran dan menghasilkan kinerja perkerasan yang lebih baik.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh berbagai metode pencampuran terhadap karakteristik
dan umur layan perkerasan SMA berfiller FA batu bara.
Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan mengacu pada Spesifikasi
Umum Bina Marga 2025. Pembuatan benda uji hanya dilakukan menggunakan metode
pencampuran dua tahap dan tiga tahap, sedangkan metode konvensional mengacu pada penelitian
Prasetya (2024). Kadar filler FA yang digunakan sebesar 50%. Pengujian yang dilakukan untuk
mengevaluasi kinerja campuran terdiri dari MS, IRS, ITS, TSR, DD, dan CL, serta analisis stiffness
modulus dan perkiraan umur layan perkerasan menggunakan software KENPAVE berbasis
pemodelan viskoelastik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran SMA dengan metode pencampuran tiga
tahap mampu memberikan kinerja yang lebih baik dibandingkan metode dua tahap maupun
konvensional. Hal ini terbukti dari kemampuan metode tiga tahap yang menghasilkan distribusi
aspal dan agregat yang lebih merata, sehingga ikatan adhesi, stabilitas, serta ketahanan campuran
terhadap air dan suhu menjadi lebih baik. Kondisi tersebut juga membuat umur layan perkerasan
dengan metode tiga tahap lebih tinggi dibandingkan metode lainnya, dengan jenis kerusakan awal
berupa permanent deformation.
Collections
- Civil Engineering [4889]
