| dc.description.abstract | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu inisiatif pemerintah dalam
meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak sekolah, serta mendukung
pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Namun, dalam implementasinya,
program ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti ketidakefisienan rantai pasok,
keterbatasan koordinasi antar pemangku kepentingan, serta isu keamanan pangan. Oleh
karena itu, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rantai pasok dengan pendekatan
yang tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga aspek inklusivitas dan keberlanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menentukan prioritas faktor-faktor
dalam kerangka Driving Forces, Pressures, State, Impact, dan Response (DPSIR) yang
memengaruhi penerapan Inclusive–Sustainable Supply Chain Management (ISSCM) pada
Program MBG. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan
data melalui kuesioner, wawancara, dan studi dokumentasi di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta sebagai studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong
utama berasal dari dukungan kebijakan pemerintah dan kebutuhan peningkatan gizi
masyarakat, sementara tekanan utama meliputi keterbatasan infrastruktur dan sistem
logistik. Kondisi rantai pasok saat ini menunjukkan masih adanya ketidakseimbangan dalam
distribusi dan pengawasan kualitas. Dampak yang ditimbulkan mencakup risiko terhadap
keamanan pangan dan efektivitas program, sedangkan respons yang diperlukan meliputi
peningkatan koordinasi antaraktor, optimalisasi peran UMKM lokal, serta penguatan sistem
pengawasan dan distribusi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi
strategis bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam meningkatkan kinerja rantai
pasok MBG agar lebih inklusif, efisien, dan berkelanjutan. | en_US |