| dc.description.abstract | Latar belakang: PPOK menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan
mortalitas, terutama pada pasien rawat inap yang umumnya memiliki komorbiditas
serta menjalani polifarmasi, sehingga berisiko mengalami DRP. Intervensi apoteker
klinis berperan dalam mengoptimalkan terapi dan meningkatkan outcome pasien,
dengan keberhasilannya dipengaruhi oleh tingkat penerimaan tenaga medis
terhadap rekomendasi yang diberikan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil pasien, pola
penggunaan obat, bentuk intervensi apoteker, serta respon tenaga medis terhadap
intervensi apoteker pada pasien PPOK rawat inap di Rumah Sakit Akademik UGM
periode tahun 2025.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross-
sectional dan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien
PPOK rawat inap. Subjek dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang
telah ditetapkan. Data yang dikumpulkan meliputi profil pasien, pola penggunaan
obat, intervensi apoteker, serta status penerimaan intervensi yang ditelusuri melalui
Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT), kemudian dianalisis secara
deskriptif.
Hasil: Sebanyak 255 pasien dianalisis, dengan mayoritas berusia ≥60 tahun
(86,27%), berjenis kelamin laki-laki (70,20%), dan memiliki komorbiditas
(98,04%). Intervensi apoteker didominasi edukasi pasien (81,30%), diikuti
pemantauan efek samping (11,45%) dan interaksi obat (2,29%). Sebagian besar
intervensi telah diimplementasikan dengan tingkat penerimaan yang baik,
meskipun dokumentasi masih terbatas.
Kesimpulan: Pasien PPOK rawat inap didominasi usia lanjut, laki-laki, dengan
komorbiditas tinggi, serta lama rawat inap ≥6 hari. Terapi umumnya telah sesuai
panduan, meskipun masih ditemukan ketidaksesuaian pada kortikosteroid inhalasi.
Intervensi apoteker terutama berupa edukasi pasien cukup dominan dan diterima
dengan baik, namun masih diperlukan peningkatan dalam aspek dokumentasi
intervensi. | en_US |