Integrasi Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk Mengidentifikasi Faktor Risiko Kecelakaan Kerja serta Usulan Perbaikan di Stasiun Gilingan PT Madubaru (PG – PS) Madukismo
Abstract
PT Madubaru (PG – PG) Madukismo merupakan perusahaan agroindustri yang bergerak dibidang
pengolahan gula kristal putih dan ethanol di Daerah Istimewa Yogyakarta. Proses produksi gula
melibatkan banyak tahapan yang kompleks. Di balik kompleksitas ini terdapat risiko kesehatan
dan keselamatan kerja yang tinggi, terutama di tempat kerja dengan tingkat paparan mesin yang
tinggi dan lingkungan kerja yang berubah – ubah. Di Stasiun Gilingan PT Madubaru (PG – PS)
Madukismo, pada periode bulan Januari 2025 hingga November 2025 diketahui terjadi 3 kali
kecelakaan kerja yaitu pada periode bulan Juli, Agustus, dan November, sehingga perlu adanya
identifikasi untuk meminimalisasi kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor risiko kecelakaan kerja dan memberikan usulan perbaikan di Stasiun
Gilingan PT Madubaru (PG – PS) Madukismo. Penelitian ini menggunakan metode Failure Mode
and Effect Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi dan menilai risiko kecelakaan kerja
berdasarkan pada setiap aktivitas produksi di Stasiun Gilingan. Kemudian sebagai metode
pendukung FMEA, digunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) untuk mengidentifikasi akar
penyebab masalah (root cause) berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN) dengan nilai
tertinggi. Setelah itu, digunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengambil
keputusan dalam memilih rekomendasi terbaik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 14 potensi
kecelakaan kerja pada seluruh aktivitas produksi di Stasiun Gilingan, dan di dapatkan satu potensi
kecelakaan kerja yang memiliki nilai RPN tertinggi berdasarkan penilaian severity, occurencce,
dan detection yaitu luka bakar akibat nira panas dan air imbibisi pada aktivitas penggilingan tebu
dengan nilai RPN sebesar 336, sehingga ditetapkan sebagai risiko dominan yang harus
diprioritaskan penanganannya. Metode FTA digunakan untuk mendukung FMEA, dan didapatkan
top event yaitu nilai RPN tertinggi, intermediate event, dan basic event, sehingga diketahui akar
penyebab masalah hingga paling dasar. Pembobotan AHP bertujuan untuk mendapatkan
rekomendasi perbaikan terbaik dan didapatkan rekomendasi terbaik yaitu administrative control
dengan bobot sebesar 0,484, sehingga dipilih strategi pengendalian risiko yang mudah diterapkan,
biaya yang rendah, serta mampu meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pekerja.
Collections
- Industrial Engineering [3109]
