Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Luaran Terapi Pasien HIV AIDS Klinik Matahari R.S.U R.A Kartini Jepara Tahun 2023-2025
Abstract
Latar belakang : Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan retrovirus
yang menyerang sel T CD4+, melemahkan sistem imun, dan dapat berkembang
menjadi AIDS jika tidak diintervensi dengan Antiretroviral Therapy (ART).
Indonesia memiliki prevalensi HIV tinggi, dengan Jawa Tengah menempati
peringkat keempat nasional. Kabupaten Jepara menyumbang angka kasus
signifikan, menempati posisi ketiga tertinggi di Jawa Tengah. Luaran terapi yang
buruk, seperti Loss to Follow Up (LTFU) dan kematian, menjadi hambatan utama
pencapaian target eliminasi 95-95-95 pada tahun 2030. Di Kabupaten Jepara,
Klinik Matahari RSUD R.A Kartini menjadi pusat rujukan yang memerlukan
evaluasi terhadap faktor-faktor yang menentukan luaran terapi pasien.
Tujuan penelitian : Mengetahui hubungan antara faktor sosiodemografi (umur,
jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, kelompok populasi, dan lokasi)
dengan luaran terapi pasien HIV di Klinik Matahari RSUD R.A. Kartini Jepara
periode 2023-2025.
Metode penelitian : Penelitian ini merupakan Penelitian kuantitatif analitik dengan
desain observasional cross-sectional menggunakan data sekunder dari rekam
medis database Sistem Informasi HIV AIDS (SIHA) RSUD R.A. Kartini Jepara.
Sampel penelitian berjumlah 178 sampel yang dipilih melalui teknik purposive
sampling. Analisis data mencakup uji univariat, bivariat (Chi-Square), dan
multivariat (Regresi Logistik).
Hasil penelitian : Dari 178 pasien HIV/AIDS di RSUD R.A. Kartini Jepara pada
tahun 2023-2025 didapatkan subjek penelitian didominasi oleh laki-laki (58,4%),
kelompok usia produktif 31–40 tahun (30,9%), dan berdomisili di wilayah pedesaan
(82,6%). Luaran klinis menunjukkan 49,4% pasien sedang menjalani pengobatan,
34,8% mengalami LTFU, dan 10,7% meninggal dunia. Analisis bivariat
menunjukkan hubungan bermakna antara kelompok usia 31–40 tahun (p = 0,04;
OR = 4,28) serta kategori populasi umum (p = 0,01; OR = 5,08) terhadap risiko
kegagalan tindak lanjut. Analisis multivariat menunjukkan tidak ada variabel
sosiodemografi yang menjadi prediktor independen tunggal (p > 0,05) setelah
disesuaikan dalam model statistik.
Kesimpulan : Kegagalan retensi pengobatan di Klinik Matahari RSUD R.A. Kartini
Jepara bersifat multifaktorial, dengan risiko kegagalan tindak lanjut yang lebih
tinggi ditemukan pada kelompok usia produktif dan populasi umum..
Collections
- Medical Education [2953]
