Show simple item record

dc.contributor.authorArya, Adinda Meisya Putri
dc.date.accessioned2026-06-10T03:36:51Z
dc.date.available2026-06-10T03:36:51Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/63344
dc.description.abstractLatar Belakang: Dismenore merupakan keluhan nyeri menstruasi yang sering dialami oleh perempuan usia reproduksi, termasuk mahasiswi, dan dapat mengganggu aktivitas akademik serta kualitas hidup. Tingginya prevalensi dismenore di Indonesia mendorong banyak perempuan melakukan swamedikasi, termasuk dengan analgetik. Selain pengobatan farmakologi, penggunaan obat tradisional seperti jamu dan minuman herbal masih banyak dipilih karena dianggap lebih alami dan memiliki risiko efek samping yang lebih rendah. Tingkat keparahan dismenore diduga memengaruhi pilihan penanganan nyeri, termasuk kecenderungan melakukan swamedikasi analgetik maupun penggunaan obat tradisional. Namun, hubungan antara kedua faktor tersebut dengan praktik swamedikasi analgetik masih memerlukan kajian lebih lanjut. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan tingkat keparahan dismenore dan penggunaan obat tradisional dengan swamedikasi analgetik pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah mahasiswi FK UII angkatan 2022 dan 2023 yang mengalami dismenore. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner daring terstruktur. Analisis hubungan antara tingkat keparahan dismenore dan penggunaan obat tradisional dengan swamedikasi analgetik dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Sebanyak 113 responden melaporkan dismenore. Mayoritas (75,3%) responden mengalami dismenore sedang dan berat. Swamedikasi analgetik paling sering dilaporkan oleh responden dengan dismenore sedang (34%), dibandingkan mereka dengan dismenore berat (22%) dan ringan (19,3%). Terdapat hubungan antara tingkat keparahan dismenore dan praktik swamedikasi analgetik (p=0.006). Pengobatan non farmakologi dilaporkan oleh 102 responden (98,1%); 20 diantaranya menggunakan herbal/obat tradisional. Tidak terdapat hubungan bermakna antara penggunaan obat tradisional dan swamedikasi analgetik. Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat keparahan dismenore dan swamedikasi analgetik pada mahasiswi FK UII. Sementara itu, penggunaan obat tradisional tidak berhubungan dengan swamedikasi analgetik.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectDismenoreen_US
dc.subjectTingkat Keparahanen_US
dc.subjectObat Tradisionalen_US
dc.subjectSwamedikasi Analgetiken_US
dc.subjectMahasiswi Kedokteranen_US
dc.titleHubungan Tingkat Keparahan Dismenore dan Penggunaan Obat Tradisional dengan Swamedikasi Analgetik Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesiaen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22711112


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record