Hubungan Tingkat Keparahan Dismenore dan Penggunaan Obat Tradisional dengan Swamedikasi Analgetik Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
Abstract
Latar Belakang: Dismenore merupakan keluhan nyeri menstruasi yang sering
dialami oleh perempuan usia reproduksi, termasuk mahasiswi, dan dapat
mengganggu aktivitas akademik serta kualitas hidup. Tingginya prevalensi
dismenore di Indonesia mendorong banyak perempuan melakukan swamedikasi,
termasuk dengan analgetik. Selain pengobatan farmakologi, penggunaan obat
tradisional seperti jamu dan minuman herbal masih banyak dipilih karena dianggap
lebih alami dan memiliki risiko efek samping yang lebih rendah. Tingkat keparahan
dismenore diduga memengaruhi pilihan penanganan nyeri, termasuk
kecenderungan melakukan swamedikasi analgetik maupun penggunaan obat
tradisional. Namun, hubungan antara kedua faktor tersebut dengan praktik
swamedikasi analgetik masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan tingkat keparahan dismenore dan
penggunaan obat tradisional dengan swamedikasi analgetik pada mahasiswi
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII)
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan
desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah mahasiswi FK UII angkatan 2022
dan 2023 yang mengalami dismenore. Pengumpulan data dilakukan
menggunakan kuesioner daring terstruktur. Analisis hubungan antara tingkat
keparahan dismenore dan penggunaan obat tradisional dengan swamedikasi
analgetik dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p <
0,05.
Hasil: Sebanyak 113 responden melaporkan dismenore. Mayoritas (75,3%)
responden mengalami dismenore sedang dan berat. Swamedikasi analgetik paling
sering dilaporkan oleh responden dengan dismenore sedang (34%), dibandingkan
mereka dengan dismenore berat (22%) dan ringan (19,3%). Terdapat hubungan
antara tingkat keparahan dismenore dan praktik swamedikasi analgetik (p=0.006).
Pengobatan non farmakologi dilaporkan oleh 102 responden (98,1%); 20
diantaranya menggunakan herbal/obat tradisional. Tidak terdapat hubungan
bermakna antara penggunaan obat tradisional dan swamedikasi analgetik.
Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat keparahan dismenore dan
swamedikasi analgetik pada mahasiswi FK UII. Sementara itu, penggunaan obat
tradisional tidak berhubungan dengan swamedikasi analgetik.
Collections
- Medical Education [2953]
