Show simple item record

dc.contributor.authorMaharani, Putri
dc.date.accessioned2026-05-30T07:56:20Z
dc.date.available2026-05-30T07:56:20Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/63098
dc.description.abstractLatar Belakang: Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) merupakan kanker paru paling umum dengan prognosis yang masih rendah, terutama dipicu oleh mutasi pada Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), Anaplastic Lymphoma Kinase (ALK), dan Kirsten Rat Sarcoma (KRAS) yang mengaktifkan jalur proliferasi sel. Kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan salah satu sumber hayati Indonesia, bijinya mengandung senyawa berpotensi antikanker. Namun, aktivitas senyawa tersebut terhadap target molekuler utama NSCLC belum dievaluasi. Tujuan: Mengidentifikasi senyawa fitokimia dari Ekstrak Biji Kepuh (EBK) yang mempunyai potensi terbaik sebagai inhibitor multitarget terhadap EGFR, ALK, dan KRAS berdasarkan analisis afinitas ikatan in silico. Metode: Penelitian ini merupakan studi in silico dengan senyawa aktif EBK sebagai kandidat inhibitor multitarget terhadap EGFR, ALK, dan KRAS pada NSCLC. Senyawa uji dipilih berdasarkan hasil gas chromatography-mass spectroscopy (GC-MS) dan bukti aktivitas biologis, dengan osimertinib, crizotinib, dan sotorasib sebagai kontrol. Struktur ligan dan protein target diperoleh dari PubChem dan RCSB Protein Data Bank. Preparasi ligan dan protein serta validasi dilakukan menggunakan BIOVIA Discovery Studio dan PyMOL, dengan metode re-docking. Molecular docking dilakukan menggunakan PyRx. Evaluasi farmakokinetik dan drug-likeness dilakukan menggunakan ADMETLab 3.0. Hasil: Pada EGFR, flavanthrone memiliki energi ikatan paling rendah (−12,2 kcal/mol), lebih stabil dibandingkan kontrol osimertinib (−7,3 kcal/mol), sementara flavone (−7,9 kcal/mol) dan methyl abietate (−7,7 kcal/mol) juga menunjukkan afinitas yang lebih baik daripada kontrol. Pada ALK, flavanthrone memiliki afinitas tertinggi (−10,8 kcal/mol) dimana lebih rendah dibandingkan control crizotinib (−7,5 kcal/mol), diikuti oleh methyl abietate (−8,0 kcal/mol) dan flavone (−7,8 kcal/mol) yang juga memiliki afinitas potensial. Dan juga pada KRAS, hanya flavanthrone (−10,0 kcal/mol) yang menunjukkan afinitas pengikatan lebih stabil dibandingkan kontrol sotorasib (−9,5 kcal/mol). Kesimpulan: Flavanthrone mempunyai potensi ditunjukkan oleh hasil uji yang relatif konsisten sebagai inhibitor multitarget terhadap EGFR, ALK, dan KRAS.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKepuh (Sterculia foetida)en_US
dc.subjectNon-Small Cell Lung Canceren_US
dc.subjectin silicoen_US
dc.titlePotensi Ekstrak Biji Kepuh (Sterculia Foetida) Sebagai Inhibitor Multitarget Non-small Cell Lung Cancer (NSCLC): Studi in Silicoen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22711177


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record