Potensi Ekstrak Biji Kepuh (Sterculia Foetida) Sebagai Inhibitor Multitarget Non-small Cell Lung Cancer (NSCLC): Studi in Silico
Abstract
Latar Belakang: Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) merupakan kanker paru
paling umum dengan prognosis yang masih rendah, terutama dipicu oleh mutasi
pada Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), Anaplastic Lymphoma Kinase
(ALK), dan Kirsten Rat Sarcoma (KRAS) yang mengaktifkan jalur proliferasi sel.
Kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan salah satu sumber hayati Indonesia,
bijinya mengandung senyawa berpotensi antikanker. Namun, aktivitas senyawa
tersebut terhadap target molekuler utama NSCLC belum dievaluasi.
Tujuan: Mengidentifikasi senyawa fitokimia dari Ekstrak Biji Kepuh (EBK) yang
mempunyai potensi terbaik sebagai inhibitor multitarget terhadap EGFR, ALK, dan
KRAS berdasarkan analisis afinitas ikatan in silico.
Metode: Penelitian ini merupakan studi in silico dengan senyawa aktif EBK
sebagai kandidat inhibitor multitarget terhadap EGFR, ALK, dan KRAS pada
NSCLC. Senyawa uji dipilih berdasarkan hasil gas chromatography-mass
spectroscopy (GC-MS) dan bukti aktivitas biologis, dengan osimertinib, crizotinib,
dan sotorasib sebagai kontrol. Struktur ligan dan protein target diperoleh dari
PubChem dan RCSB Protein Data Bank. Preparasi ligan dan protein serta validasi
dilakukan menggunakan BIOVIA Discovery Studio dan PyMOL, dengan metode
re-docking. Molecular docking dilakukan menggunakan PyRx. Evaluasi
farmakokinetik dan drug-likeness dilakukan menggunakan ADMETLab 3.0.
Hasil: Pada EGFR, flavanthrone memiliki energi ikatan paling rendah (−12,2
kcal/mol), lebih stabil dibandingkan kontrol osimertinib (−7,3 kcal/mol), sementara
flavone (−7,9 kcal/mol) dan methyl abietate (−7,7 kcal/mol) juga menunjukkan
afinitas yang lebih baik daripada kontrol. Pada ALK, flavanthrone memiliki afinitas
tertinggi (−10,8 kcal/mol) dimana lebih rendah dibandingkan control crizotinib (−7,5
kcal/mol), diikuti oleh methyl abietate (−8,0 kcal/mol) dan flavone (−7,8 kcal/mol)
yang juga memiliki afinitas potensial. Dan juga pada KRAS, hanya flavanthrone
(−10,0 kcal/mol) yang menunjukkan afinitas pengikatan lebih stabil dibandingkan
kontrol sotorasib (−9,5 kcal/mol).
Kesimpulan: Flavanthrone mempunyai potensi ditunjukkan oleh hasil uji yang
relatif konsisten sebagai inhibitor multitarget terhadap EGFR, ALK, dan KRAS.
Collections
- Medical Education [2934]
