Show simple item record

dc.contributor.authorHuda, Eva Nurul
dc.date.accessioned2026-05-29T03:25:19Z
dc.date.available2026-05-29T03:25:19Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/63032
dc.description.abstractTransformasi digital telah merevolusi lanskap filantropi Islam di Indonesia, termasuk dalam pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Di tengah fenomena ini, LAZISMU menghadapi tantangan dalam mengonversi potensi muzakki menjadi pengguna aktif layanan digital. Kesenjangan antara ketersediaan teknologi dan adopsi aktual mengindikasikan bahwa faktor-faktor non-teknis memainkan peran yang lebih determinan dalam membentuk niat muzakki untuk menunaikan ZIS secara digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan yang memengaruhi intensi muzakki dalam menunaikan ZIS melalui layanan digital LAZISMU dengan mengintegrasikan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB), Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), dan faktor kepercayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Data dikumpulkan dari 253 responden muzakki LAZISMU yang menunaikan ZIS melalui layanan digital LAZISMU menggunakan teknik Convenience Sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur dengan skala Likert 5 poin yang telah divalidasi. Analisis data menggunakan metode Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 hipotesis yang diuji, 7 hipotesis dinyatakan diterima. Kepercayaan terbukti sebagai prediktor terkuat terhadap sikap diikuti oleh performance expectancy, subjective norm, dan perceived behavioral control. Sikap terbukti menjadi prediktor terkuat terhadap intensi, sementara kepercayaan juga berpengaruh langsung terhadap intensi. Pembentukan sikap positif merupakan mekanisme psikologis kunci yang tidak dapat diabaikan dalam mengonversi persepsi dan keyakinan muzakki menjadi niat perilaku nyata. Kepercayaan institusional menjadi fondasi utama yang menopang adopsi teknologi filantropi digital, melampaui pentingnya faktor-faktor teknis seperti kemudahan penggunaan atau ketersediaan infrastruktur. Dalam konteks ibadah maliah yang bersifat value- laden, kepercayaan terbukti lebih determinan dibandingkan kecanggihan teknologi. Temuan bahwa faktor-faktor teknis tidak berpengaruh langsung terhadap intensi mengindikasikan terjadinya pergeseran paradigma dari technology-centric menuju value-centric dalam adopsi layanan digital zakat. Implikasi praktis bagi manajemen LAZISMU adalah bahwa strategi digitalisasi harus memprioritaskan upaya sistematis membangun dan mempertahankan kepercayaan melalui transparansi real-time, audit eksternal independen, komunikasi dampak program yang terukur, dan pemanfaatan struktur sosial persyarikatan Muhammadiyah sebagai opinion leaders.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectZakat Digitalen_US
dc.subjectTPBen_US
dc.subjectUTAUTen_US
dc.subjectTrusten_US
dc.subjectAttitudeen_US
dc.subjectLAZISMUen_US
dc.titleAnalisis Determinan Intensi Menunaikan Zis (Zakat, Infak, dan Sedekah) Melalui Layanan Digital Lazismu: Integrasi Teori TPB, Utaut, dan Faktor Kepercayaanen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21918010


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record