Show simple item record

dc.contributor.authorDinya, Mahiya Prewinar Ajining
dc.date.accessioned2026-05-18T06:27:20Z
dc.date.available2026-05-18T06:27:20Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/62680
dc.description.abstractLatar Belakang: Tinnitus kronis merupakan kondisi persepsi bunyi tanpa rangsangan eksternal yang berlangsung ≥3 bulan dan dapat menimbulkan distres psikologis serta penurunan fungsi emosional dan sosial, sehingga berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Hingga saat ini, belum tersedia terapi kuratif untuk tinnitus, sehingga terapi non-farmakologis menjadi komponen penting dalam penatalaksanaannya. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Tinnitus Retraining Therapy (TRT) merupakan dua terapi yang banyak diteliti dan dilaporkan dalam literatur terkait penatalaksanaan tinnitus kronis, namun bukti ilmiah yang tersedia menunjukkan variasi metode pemberian intervensi dan pelaporan hasil, sehingga diperlukan pemetaan secara sistematis. Tujuan: Scoping review ini bertujuan untuk memetakan dan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas CBT dan TRT terhadap kualitas hidup pasien tinnitus kronis. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui beberapa database, yaitu PubMed, SpringerLink, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Google Scholar, dengan rentang publikasi tahun 2015-2025. Proses seleksi artikel dilakukan melalui tahap identifikasi, skrining, eligibilitas, dan inklusi sesuai pedoman PRISMA-ScR, kemudian dianalisis menggunakan tabel ekstraksi data. Hasil: Hasil dari 9 artikel yang ditelaah menunjukkan bahwa CBT, termasuk CBT standar maupun digital, secara konsisten efektif menurunkan distres tinnitus dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Efektivitas tersebut dinilai menggunakan instrumen seperti Tinnitus Handicap Inventory (THI), Tinnitus Functional Index (TFI), Tinnitus Questionnaire (TQ), dan Mini-TQ, dengan beberapa studi melaporkan keberlanjutan perbaikan hingga satu tahun pascaintervensi. TRT juga terbukti efektif meningkatkan kualitas hidup pasien berdasarkan studi dengan desain uji klinis terkontrol. Perbedaan antar studi TRT terutama terletak pada metode pemberian intervensi, sementara belum terdapat penelitian dalam review ini yang mengevaluasi stabilitas efek TRT pada periode tindak lanjut. Kesimpulan: CBT dan TRT merupakan terapi non-farmakologis yang efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien tinnitus kronis. CBT memiliki bukti yang lebih konsisten, termasuk terkait keberlanjutan efek pascaintervensi, sedangkan TRT efektif meningkatkan kualitas hidup melalui pendekatan habituasi. Perbedaan karakteristik populasi, termasuk tingkat keparahan tinnitus dan kebutuhan klinis pasien, perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi. Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal diperlukan untuk menilai stabilitas efek TRT dalam jangka panjang.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.titleEfektivitas Terapi Non-farmakologis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Tinnitus Retraining Therapy (TRT) Terhadap Kualitas Hidup Pasien Pada Pasien Tinnitus Kronis: Scoping Reviewen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22711055


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record