Efektivitas Terapi Non-farmakologis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Tinnitus Retraining Therapy (TRT) Terhadap Kualitas Hidup Pasien Pada Pasien Tinnitus Kronis: Scoping Review
Abstract
Latar Belakang: Tinnitus kronis merupakan kondisi persepsi bunyi tanpa
rangsangan eksternal yang berlangsung ≥3 bulan dan dapat menimbulkan distres
psikologis serta penurunan fungsi emosional dan sosial, sehingga berdampak
signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Hingga saat ini, belum tersedia terapi
kuratif untuk tinnitus, sehingga terapi non-farmakologis menjadi komponen penting
dalam penatalaksanaannya. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Tinnitus
Retraining Therapy (TRT) merupakan dua terapi yang banyak diteliti dan
dilaporkan dalam literatur terkait penatalaksanaan tinnitus kronis, namun bukti
ilmiah yang tersedia menunjukkan variasi metode pemberian intervensi dan
pelaporan hasil, sehingga diperlukan pemetaan secara sistematis.
Tujuan: Scoping review ini bertujuan untuk memetakan dan mensintesis bukti
ilmiah mengenai efektivitas CBT dan TRT terhadap kualitas hidup pasien tinnitus
kronis.
Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui beberapa database, yaitu PubMed,
SpringerLink, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Google Scholar, dengan
rentang publikasi tahun 2015-2025. Proses seleksi artikel dilakukan melalui tahap
identifikasi, skrining, eligibilitas, dan inklusi sesuai pedoman PRISMA-ScR,
kemudian dianalisis menggunakan tabel ekstraksi data.
Hasil: Hasil dari 9 artikel yang ditelaah menunjukkan bahwa CBT, termasuk CBT
standar maupun digital, secara konsisten efektif menurunkan distres tinnitus dan
meningkatkan kualitas hidup pasien. Efektivitas tersebut dinilai menggunakan
instrumen seperti Tinnitus Handicap Inventory (THI), Tinnitus Functional Index
(TFI), Tinnitus Questionnaire (TQ), dan Mini-TQ, dengan beberapa studi
melaporkan keberlanjutan perbaikan hingga satu tahun pascaintervensi. TRT juga
terbukti efektif meningkatkan kualitas hidup pasien berdasarkan studi dengan
desain uji klinis terkontrol. Perbedaan antar studi TRT terutama terletak pada
metode pemberian intervensi, sementara belum terdapat penelitian dalam review
ini yang mengevaluasi stabilitas efek TRT pada periode tindak lanjut.
Kesimpulan: CBT dan TRT merupakan terapi non-farmakologis yang efektif
dalam meningkatkan kualitas hidup pasien tinnitus kronis. CBT memiliki bukti yang
lebih konsisten, termasuk terkait keberlanjutan efek pascaintervensi, sedangkan
TRT efektif meningkatkan kualitas hidup melalui pendekatan habituasi. Perbedaan
karakteristik populasi, termasuk tingkat keparahan tinnitus dan kebutuhan klinis
pasien, perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi. Penelitian lanjutan dengan
desain longitudinal diperlukan untuk menilai stabilitas efek TRT dalam jangka
panjang.
Collections
- Medical Education [2953]
