| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan
burnout akademik pada mahasiswa aktif organisasi. Mahasiswa yang menjalani
peran ganda sebagai mahasiswa dan pengurus organisasi berpotensi mengalami
tekanan emosional, kelelahan akademik, serta tuntutan yang bersifat kronis.
Regulasi emosi berperan penting dalam membantu mahasiswa mengelola tekanan
tersebut agar tidak berkembang menjadi burnout akademik. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan
penelitian berjumlah 178 mahasiswa aktif organisasi yang dipilih menggunakan
teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah School Burnout
Inventory (SBI) dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Analisis data
dilakukan menggunakan korelasi Pearson melalui JASP. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa regulasi emosi memiliki hubungan yang signifikan dengan
burnout akademik. Dimensi cognitive reappraisal memiliki hubungan positif yang
lemah namun signifikan dengan burnout akademik (r = 0,221; p < 0,05), yang
mengindikasikan bahwa semakin tinggi penggunaan strategi ini, semakin tinggi
pula tingkat burnout yang dialami. Temuan ini mencerminkan bahwa mahasiswa
dengan tingkat tekanan tinggi cenderung meningkatkan penggunaan reappraisal
sebagai upaya coping, meskipun situasi yang dihadapi sulit dikendalikan.
Sebaliknya, expressive suppression menunjukkan hubungan negatif yang signifikan
dengan burnout akademik (r = –0,321; p < 0,001), mengindikasikan bahwa
kemampuan mengendalikan ekspresi emosi dapat berperan adaptif dalam konteks
tuntutan ganda. Analisis antar dimensi menunjukkan bahwa cognitive reappraisal
berhubungan negatif signifikan dengan emotional exhaustion dan personal
inadequacy, namun tidak berhubungan dengan cynicism. Temuan ini menegaskan
bahwa regulasi emosi, khususnya strategi dalam mengelola tekanan emosional,
memiliki peran penting dalam memprediksi dan menurunkan risiko burnout
akademik pada mahasiswa aktif organisasi. | en_US |