Show simple item record

dc.contributor.authorSofa, Ade
dc.date.accessioned2026-03-11T06:27:51Z
dc.date.available2026-03-11T06:27:51Z
dc.date.issued2001
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/61105
dc.description.abstractMohammad Natsir adalah salah seorang tokoh modernis, hidup di zaman transisi antara pra-kemerdekaan sampai pasca-kemerdekaan (1908- 1993). Dibesarkan dalam dua tradisi pendidikan, yaitu pendidikan sistem Barat (masa kolonial Belanda) dan tradisi pendidikan agama, yakni setelah mengenal guru Ahmad Hassan, seorang tokoh otodidak dalam bidang agama Islam. Dengan bekal intelektual yang tinggi dan didukung dengan semangat keagamaan yang mendalam, Mohammad Natsir tampil exsist dalam kancah perjuangan bangsa, yakni sebagai tokoh pendidikan dengan rintisannya mendirikan lembaga pendidikan Islam (Pendis), dibawah naungan organisasi Persatuan Islam (Persis), sebagai tokoh politik dengan organisasi politik yang terbesar saat itu yakni Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), dan sebagai tokoh dakwah dengan mendirikan lembaga Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pemikiran M. Natsir secara epistemologi bersumber kepada Al- Qur'an dan As-Sunnah. Corak pemikirannya merupakan sintesa antara pola pikir Timur dan Barat. Ia mencoba mendialogkan secara interaktif-adabtif antara khasanah intelektual Timur dan Barat. Ia berprinsip: "Dari manapun datangnya kebenaran harus diterima dan dari manapun datangnya kebatilan harus di tolak, tanpa melihat apakah datang dari Timur atau Barat". M. Natsir memahami ajaran Islam yang universal, yang senantiasa menerima suatu peradaban yang mengandung nilai kebenaran dan memberikan kesejahteraan dan keselamatan umat manusia. Dari prinsip inilah M. Natsir memiliki sifat modernis, dengan pandangan jauh kedepan. Sehingga Islam dengan ajaran-ajarannya dapat menerima bahkan mendorong kemajuan peradaban yang positif, dengan prinsip-prinsip syari yang jelas (mampu membedakan antara yang haq dan yang batil). Modernisasi dalam lapangan pendidikan bukan berarti upaya pembaratan (westernisasi) sistem pendidikan Islam, tetapi merupakan upaya merasionalkan (rasionalisasi) sistem itu dengan dilandasi pemahaman tauhid yang benar, sehingga rasionalisasinya terarah atau tidak menjadikan seorang yang sekuler. Ilmu dalam Islam diharapkan mampu memupuk dan mempertebal keimanan, demikian pula sebaliknya, keimanan yang tebal hendaknya mampu mendorong semangat dalam mencari ilmu. Islam merupakan agama yang memadukan ilmu dan iman yang kemudian melahirkan amal. Dengan demikian, pendidikan Islam diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan pemahaman yang benar tentang hakekat keberadaan manusia di dunia ini, yakni sebagai hamba Allah yang senantiasa mengabdi kepada Al-Khaliq dan mampu merekayasa alam sebagai Khalifatullah untuk kesejahteraan umat manusia.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectMohammad Natsiren_US
dc.subjectModernisasien_US
dc.subjectPendidikan Islamen_US
dc.subjectAnalisis Historisen_US
dc.titleKonsep Mohammad Natsir tentang Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Studi Analisis Historis)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM9902036


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record