• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Islamic Studies
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Thesis
    • Master of Islamic Studies
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Konsep Mohammad Natsir tentang Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia (Studi Analisis Historis)

    Thumbnail
    View/Open
    9902036.pdf (4.437Mb)
    Date
    2001
    Author
    Sofa, Ade
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Mohammad Natsir adalah salah seorang tokoh modernis, hidup di zaman transisi antara pra-kemerdekaan sampai pasca-kemerdekaan (1908- 1993). Dibesarkan dalam dua tradisi pendidikan, yaitu pendidikan sistem Barat (masa kolonial Belanda) dan tradisi pendidikan agama, yakni setelah mengenal guru Ahmad Hassan, seorang tokoh otodidak dalam bidang agama Islam. Dengan bekal intelektual yang tinggi dan didukung dengan semangat keagamaan yang mendalam, Mohammad Natsir tampil exsist dalam kancah perjuangan bangsa, yakni sebagai tokoh pendidikan dengan rintisannya mendirikan lembaga pendidikan Islam (Pendis), dibawah naungan organisasi Persatuan Islam (Persis), sebagai tokoh politik dengan organisasi politik yang terbesar saat itu yakni Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), dan sebagai tokoh dakwah dengan mendirikan lembaga Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pemikiran M. Natsir secara epistemologi bersumber kepada Al- Qur'an dan As-Sunnah. Corak pemikirannya merupakan sintesa antara pola pikir Timur dan Barat. Ia mencoba mendialogkan secara interaktif-adabtif antara khasanah intelektual Timur dan Barat. Ia berprinsip: "Dari manapun datangnya kebenaran harus diterima dan dari manapun datangnya kebatilan harus di tolak, tanpa melihat apakah datang dari Timur atau Barat". M. Natsir memahami ajaran Islam yang universal, yang senantiasa menerima suatu peradaban yang mengandung nilai kebenaran dan memberikan kesejahteraan dan keselamatan umat manusia. Dari prinsip inilah M. Natsir memiliki sifat modernis, dengan pandangan jauh kedepan. Sehingga Islam dengan ajaran-ajarannya dapat menerima bahkan mendorong kemajuan peradaban yang positif, dengan prinsip-prinsip syari yang jelas (mampu membedakan antara yang haq dan yang batil). Modernisasi dalam lapangan pendidikan bukan berarti upaya pembaratan (westernisasi) sistem pendidikan Islam, tetapi merupakan upaya merasionalkan (rasionalisasi) sistem itu dengan dilandasi pemahaman tauhid yang benar, sehingga rasionalisasinya terarah atau tidak menjadikan seorang yang sekuler. Ilmu dalam Islam diharapkan mampu memupuk dan mempertebal keimanan, demikian pula sebaliknya, keimanan yang tebal hendaknya mampu mendorong semangat dalam mencari ilmu. Islam merupakan agama yang memadukan ilmu dan iman yang kemudian melahirkan amal. Dengan demikian, pendidikan Islam diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan pemahaman yang benar tentang hakekat keberadaan manusia di dunia ini, yakni sebagai hamba Allah yang senantiasa mengabdi kepada Al-Khaliq dan mampu merekayasa alam sebagai Khalifatullah untuk kesejahteraan umat manusia.
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/123456789/61105
    Collections
    • Master of Islamic Studies [1664]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV