Perbandingan Algoritma K-means dan Gaussian Mixture Model Dalam Clustering Kapanewon di Daerah Istimewa Yogyakarta (Studi Kasus : Jumlah Usaha Pertanian Perorangan Gurem Tahun 2023)
Abstract
Usaha Pertanian Perorangan Gurem di DIY, memainkan peran penting dalam
perekonomian dan ketahanan pangan. Berdasarkan data Sensus Pertanian DIY
Tahun 2023, Jumlah Usaha Pertanian Perorangan Gurem mengalami penurunan
sebesar 13,91 persen dalam sepuluh tahun terakhir, meskipun proporsi petani gurem
meningkat dari 85,70 persen menjadi 87,75 persen. Hal ini mencerminkan
tantangan struktural yang dihadapi sektor pertanian, terutama terkait keterbatasan
lahan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi Usaha
Pertanian Perorangan Gurem melalui perbandingan kinerja metode clustering K-
Means dan Gaussian Mixture Model. Analisis dilakukan dengan
mempertimbangkan keunggulan K-Means dalam kesederhanaan serta fleksibilitas
Gaussian Mixture Model dalam menangani struktur data yang kompleks. Hasil
clustering menunjukkan bahwa K-Means optimal pada lima cluster (k=5),
sedangkan Gaussian Mixture Model optimal pada tiga cluster (k=3). Validasi
internal menggunakan Elbow, Gap Statistics, Silhouette Score, Dunn Index,
Connectivity Index, Davies-Bouldin Index (DBI), dan Calinski-Harabasz Index
menunjukkan GMM lebih unggul pada k=3, dengan Silhouette Score 0.3189, DBI
0.8280, dan Connectivity Index 13.93, yang mampu membentuk cluster lebih stabil
dan seimbang. Profil cluster GMM menunjukkan Cluster 1 (potensi tinggi di semua
subsektor), Cluster 2 (menengah), dan Cluster 3 (rendah, dominan perkotaan).
Dengan demikian, metode GMM lebih representatif dalam menggambarkan
keragaman wilayah Usaha Pertanian Perorangan Gurem di Daerah Istimewa
Yogyakarta. Hasil penelitian ini memberikan dasar empiris untuk mendukung
perumusan kebijakan pertanian yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis
potensi wilayah, terutama dalam meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan
petani gurem.
Collections
- Statistics [1220]
