Elemen Pembentuk Ruang Sholat Masjid Gedhe Mataram Kotagede Dan Masjid Margoyuwono
Abstract
Masjid sebagai karya budaya hidup di Yogyakarta mencerminkan dinamika sosial, budaya,
dan historis masyarakat dari abad ke-16 hingga ke-21, dengan akulturasi antara tradisi Jawa,
Hindu-Budha, dan Islam. Penelitian ini fokus pada dua masjid tradisional: Masjid Gedhe
Mataram Kotagede (dibangun oleh Panembahan Senopati pada 1578-1587 M), yang
mewakili inisiatif kerajaan pra-kolonial dengan elemen simbolik kosmologi Jawa seperti
atap tajug bertingkat dan gapura paduraksa, serta Masjid Margoyuwono (didirikan akhir
abad ke-19 oleh Prawiroyuwono, diresmikan 1943), yang mencerminkan inisiatif pedagang
batik pada masa kolonial akhir dengan pengaruh Eropa dan Timur Tengah. Kedua masjid ini
tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sosial dan simbol
identitas budaya, di mana ruang sholat utama menjadi elemen kunci yang mendukung
kenyamanan, konsentrasi, dan interaksi masyarakat. Perbandingan keduanya penting untuk
memahami evolusi arsitektur masjid Jawa dalam konteks akulturasi dan adaptasi terhadap
perubahan zaman.
Rumusan masalah penelitian mencakup: (a) Apa saja elemen pembentuk ruang sholat pada
kedua masjid? (b) Bagaimana persamaan dan perbedaan elemen tersebut? (c) Bagaimana
pengaruh budaya lokal dan asing terhadap elemen-elemen itu? (d) Apa saja perubahan yang
terjadi sepanjang sejarah? Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi elemen, menganalisis
perbandingan, pengaruh budaya, dan transformasi historis untuk berkontribusi pada
pelestarian arsitektur masjid berbasis nilai lokal.
Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif historis dan deskriptif-
komparatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur (jurnal, arsip historis, dan
referensi arsitektur Islam Jawa), observasi lapangan (pengukuran, foto, sketsa denah ruang
sholat), dan dokumentasi visual. Analisis data bersifat deskriptif untuk menggambarkan
elemen (material, ornamen, ukuran, struktur) dan komparatif untuk membandingkan
persamaan-perbedaan serta konteks budaya-historis. Validitas dijaga melalui triangulasi
data, observasi naturalistik, dan perbandingan sumber. Lokasi penelitian di Kotagede dan
Jeron Beteng Yogyakarta, dengan jadwal pelaksanaan mencakup persiapan, pengumpulan
data, analisis, hingga penyusunan laporan.
Temuan utama menunjukkan elemen ruang sholat Masjid Gedhe Mataram Kotagede
meliputi lantai marmer, tiang saka guru kayu jati, dinding bata tebal, bukaan kecil, langit-
langit tajug, dan mihrab melengkung dengan motif sulur. Masjid Margoyuwono memiliki
lantai teraso, tanpa tiang utama, dinding tipis dengan ubin, bukaan besar bergaya Eropa,
langit-langit eternit, dan mihrab dengan kaligrafi. Persamaan terletak pada tipe denah yang
sama, orientasi kiblat, bentuk mihrab yang melengkung dan menjorok 1,5 m, penggunaan
material lokal seperti kayu dan bata, serta fungsi serambi sebagai transisi sosial-spiritual,
sementara perbedaan signifikan meliputi material lantai, keberadaan tiang, struktur langit-
langit, ketebalan dinding, ornamen, dan bukaan yang memengaruhi pencahayaan dan
penghawaan alami. Pengaruh budaya lokal Jawa terlihat pada simbolisme kosmologi,
sementara budaya asing muncul dari kolonial (eternit) dan Islam Ortodoks (kaligrafi).
Perubahan historis meliputi renovasi pasca-gempa di Kotagede dan adaptasi fungsional di
Margoyuwono.
Kesimpulan penelitian menekankan bahwa elemen ruang sholat kedua masjid
mencerminkan evolusi akulturasi Jawa-Islam, dengan Kotagede sebagai fondasi tradisional
kerajaan dan Margoyuwono sebagai adaptasi modern pasca-kolonial. Temuan ini
berkontribusi pada kajian arsitektur Islam tradisional, sejarah budaya Yogyakarta, dan
pelestarian masjid bersejarah. Saran mencakup rekomendasi desain masjid masa depan yang
mengintegrasikan nilai lokal dengan adaptasi modern, serta penelitian lanjutan untuk
memperluas dan memperdalam objek studi.
Collections
Related items
Showing items related by title, author, creator and subject.
-
Persepsi dan Respon Masyarakat Jamaah Masjid Jogokariyan Mengenai Implementasi Masjid sebagai Sarana Pembinaan Keluarga Sakinah (Studi Kasus Masjid Jogokariyan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogjakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta)
Muhammad Rifan Habiburrohman, 16421053 (Universitas Islam Indonesia, 2020-07-07)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan respon masyarakat, khususnya jamaah Masjid Jogokariyan mengenai implementasi masjid sebagai sarana pembinaan keluarga sakinah. Masjid Jogokariyan memang dikenal luas ... -
Kajian Pengaruh Kolom Masjid Pada Pola Perilaku Jamaah Studi kasus Masjid Agung dan Masjid Namira Lamongan
Sayyaf, Sayyid; Darmawati, Rini (Universitas Islam Indonesia, 2021-02-20)Masjid merupakan elemen yang tidak bisa dipisahkan keberadaan dari umat Islam di manapun berada. Masjid merupakan tempat yang sangat penting dan merupakan sentra kegiatan kaum muslimin, sehingga tercipta banyak interaksi ... -
Revitalisasi Fungsi Masjid Sebagai Pusat Pendidikan Agama Islam (Studi Pada Masjid Agung Nasional Islamic Centre Pasir Pengaraian Provinsi Riau)
Hendri, Maizul (Universitas Islam Indonesia, 2017-04-19)Masjid merupakan tempat yang multi fungsi bagi umat Islam. Dewasa ini masjid hanya digunakan khusus untuk ibadah mahdhah semata. Maka oleh karena itu revitaslisasi terhadap fungsi masjid harus dilakukan. Tujuan Penelitian ...
