Show simple item record

dc.contributor.authorSuryati
dc.date.accessioned2026-02-04T06:51:50Z
dc.date.available2026-02-04T06:51:50Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/60232
dc.description.abstractPenelitian bertujuan untuk menyusun kerangka analisis krisis yang meliputi pengukuran krisis, analisis penyebab krisis, efek penularan krisis, dan prediksi krisis di masa mendatang. Data penelitian menggunakan data sekunder yang meliputi Indeks Harga Properti Residensial, Indeks Harga Konsumen, interest rate spread, exchage rate volatility, stock market volatility, bond yield volatility, dan money supply growth, dari tahun 2010 kuartal pertama hingga 2024 kuartal keempat, yang mencakup negara-negara yang tergabung dalam ASEAN-5. Teknik analisis yang digunakan yaitu pengukuran rasio bubble, Principal Component Analysis (PCA), Panel Autoregressive Distribution Lag (PARDL), Granger Causality, dan Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA). Kebaruan penelitian ini terletak pada pembangunan kerangka analisis krisis yang komprehensif melalui empat tahapan: pengukuran gelembung perumahan, identifikasi faktor penyebab, analisis efek penularan antarnegara, dan prediksi potensi krisis di kawasan ASEAN-5. Pendekatan ini diperkaya dengan integrasi perspektif ekonomi Islam melalui maqāṣid syarī‘ah untuk menilai pola spekulatif pada gelembung perumahan, serta menegaskan rumah sebagai kebutuhan ḍarūriyyāt. Dengan demikian, krisis perumahan dipahami tidak hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga terkait dengan perlindungan hajat hidup dasar masyarakat. Integrasi empiris dan normatif ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi kebijakan perumahan dan stabilitas keuangan yang lebih inklusif. Hasil perhitungan rasio bubble menunjukkan seluruh negara ASEAN-5 tidak mencapai kriteria bubble. Namun, Malaysia terdeteksi sebagai negara yang memiliki rasio housing bubble tertinggi yang mendekati kriteria bubble (2:1) mencapai1,97 pada tahun 2024 kuartal IV. Penyumbang utama terbentuknya kerentanan sistem keuangan negara-negara ASEAN-5 yaitu kinerja sektor moneter, sektor perbankan, dan volatilitas valuta asing. Kerentanan sistem keuangan terbukti mempengaruhi terjadinya bubble economy melalui stimulus suku bunga, volatilitas pasar saham dan pasar obligasi. Selain itu, diketahui bahwa pola pergerakan rasio housing bubble di ASEAN-5 memiliki kriteria speculative. Housing bubble di Singapura memiliki efek penularan terhadap gelembung perumahan di Indonesia. Gelembung perumahan Indonesia juga memiliki efek penularan terhadap Thailand. Thailand memiliki kekuatan terbesar dalam menyebarkan krisis melalui perubahan gelembung harga rumah, yaitu mampu menularkan efek krisis terhadap negara Singapura, Malaysia, dan Philippines. Hasil estimasi forecasting pada bubble economy pada pasar perumahan ASEAN-5 menunjukkan bahwa Malaysia memiliki trend peramalan rasio housing bubble paling beresiko. Selanjutnya, disusul oleh negara Indonesia, Singapura, Thailand, dan Philippines.en_US
dc.subjectHousing Bubble, Financial Fragility, Interest Rate, Exchange Rate, Stock And Bond Market, Money Supplyen_US
dc.titleKerentanan Sistem Keuangan dan Kerangka Alat Analisis Krisis Keuangan Menggunakan Pengukuran Gelembung Perumahan di Asean-5en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM19931004


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record