• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Dissertations
    • Doctor of Economics
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Dissertations
    • Doctor of Economics
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Kerentanan Sistem Keuangan dan Kerangka Alat Analisis Krisis Keuangan Menggunakan Pengukuran Gelembung Perumahan di Asean-5

    Thumbnail
    View/Open
    19931004.pdf (6.598Mb)
    Date
    2025
    Author
    Suryati
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Penelitian bertujuan untuk menyusun kerangka analisis krisis yang meliputi pengukuran krisis, analisis penyebab krisis, efek penularan krisis, dan prediksi krisis di masa mendatang. Data penelitian menggunakan data sekunder yang meliputi Indeks Harga Properti Residensial, Indeks Harga Konsumen, interest rate spread, exchage rate volatility, stock market volatility, bond yield volatility, dan money supply growth, dari tahun 2010 kuartal pertama hingga 2024 kuartal keempat, yang mencakup negara-negara yang tergabung dalam ASEAN-5. Teknik analisis yang digunakan yaitu pengukuran rasio bubble, Principal Component Analysis (PCA), Panel Autoregressive Distribution Lag (PARDL), Granger Causality, dan Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA). Kebaruan penelitian ini terletak pada pembangunan kerangka analisis krisis yang komprehensif melalui empat tahapan: pengukuran gelembung perumahan, identifikasi faktor penyebab, analisis efek penularan antarnegara, dan prediksi potensi krisis di kawasan ASEAN-5. Pendekatan ini diperkaya dengan integrasi perspektif ekonomi Islam melalui maqāṣid syarī‘ah untuk menilai pola spekulatif pada gelembung perumahan, serta menegaskan rumah sebagai kebutuhan ḍarūriyyāt. Dengan demikian, krisis perumahan dipahami tidak hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga terkait dengan perlindungan hajat hidup dasar masyarakat. Integrasi empiris dan normatif ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi kebijakan perumahan dan stabilitas keuangan yang lebih inklusif. Hasil perhitungan rasio bubble menunjukkan seluruh negara ASEAN-5 tidak mencapai kriteria bubble. Namun, Malaysia terdeteksi sebagai negara yang memiliki rasio housing bubble tertinggi yang mendekati kriteria bubble (2:1) mencapai1,97 pada tahun 2024 kuartal IV. Penyumbang utama terbentuknya kerentanan sistem keuangan negara-negara ASEAN-5 yaitu kinerja sektor moneter, sektor perbankan, dan volatilitas valuta asing. Kerentanan sistem keuangan terbukti mempengaruhi terjadinya bubble economy melalui stimulus suku bunga, volatilitas pasar saham dan pasar obligasi. Selain itu, diketahui bahwa pola pergerakan rasio housing bubble di ASEAN-5 memiliki kriteria speculative. Housing bubble di Singapura memiliki efek penularan terhadap gelembung perumahan di Indonesia. Gelembung perumahan Indonesia juga memiliki efek penularan terhadap Thailand. Thailand memiliki kekuatan terbesar dalam menyebarkan krisis melalui perubahan gelembung harga rumah, yaitu mampu menularkan efek krisis terhadap negara Singapura, Malaysia, dan Philippines. Hasil estimasi forecasting pada bubble economy pada pasar perumahan ASEAN-5 menunjukkan bahwa Malaysia memiliki trend peramalan rasio housing bubble paling beresiko. Selanjutnya, disusul oleh negara Indonesia, Singapura, Thailand, dan Philippines.
    URI
    https://dspace.uii.ac.id/123456789/60232
    Collections
    • Doctor of Economics [93]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV