| dc.description.abstract | Penelitian ini dilatar belakangi oleh masih terbatasnya akses pendidikan bagi siswa disabilitas netra di Indonesia, di mana hanya sekitar 30% anak tunanetra yang dapat menikmati pendidikan formal. MAN 2 Sleman, sebagai madrasah penyelenggara pendidikan inklusif sejak 2012, menjadi lokasi penelitian karena memiliki komitmen kuat dan fasilitas memadai dalam melayani siswa berkebutuhan khusus. Fokus penelitian ini adalah mengkaji strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembelajaran bagi siswa disabilitas netra. Pendidikan PAI memiliki peran penting dalam menumbuhkan keimanan dan membentuk karakter spiritual serta moral siswa. Melalui pendekatan pembelajaran inklusif, penggunaan media adaptif seperti Braille dan teknologi audio, serta dukungan Guru Pembimbing Khusus (GPK), MAN 2 Sleman berupaya mewujudkan pendidikan yang setara dan bermakna bagi seluruh siswa tanpa diskriminasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitaif deskriptif, jenis penelitian lapangan (field research). Teknik penentuan informan dengan purposive sampling dan informan dari Guru PAI, GPK, Siswa Disabilitas Netra. Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data dilakukan pada natural setting dan pengumpulan data lebih banyak pada observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Teknik analisis data melalui 3 tahapan, yaitu Reduksi Data, Penyajian Data, dan Penarikan Kesimpulan/Verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI di MAN 2 Sleman menerapkan dua strategi utama dalam pembelajaran bagi siswa disabilitas netra, yaitu diferensiasi pembelajaran dan peer to peer learning, yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Strategi ini didukung oleh metode ceramah, diskusi, dan praktik langsung, serta pemanfaatan media seperti Al-Qur’an Braille, audio, dan teknologi bantu. Hambatan yang dihadapi guru meliputi keberagaman kemampuan siswa dan keterbatasan teknologi, yang memengaruhi aksesibilitas dan efektivitas pembelajaran. Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru melakukan kolaborasi dengan GPK, penyesuaian metode, serta mengikuti in-house training yang rutin diadakan madrasah guna meningkatkan kompetensi dan kesiapan mengajar di kelas inklusi. Secara keseluruhan, strategi dan upaya tersebut mencerminkan penerapan prinsip pendidikan inklusif dan Kurikulum Merdeka, yang menekankan diferensiasi, kolaborasi, dan kesetaraan akses bagi semua peserta didik. | en_US |