Show simple item record

dc.contributor.authorLathif, Ahmad Fachruddin
dc.date.accessioned2026-01-31T02:41:18Z
dc.date.available2026-01-31T02:41:18Z
dc.date.issued2006
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/59972
dc.description.abstractTesis ini berusaha untuk mendiskripsikan kegiatan tariqat naqshabandiah di Ponorogo dengan berbagai ajaran dan ritualnya melalui pendekatan kualitatif naturalistik. Seluruh aspek yang terkait dengan tariqat naqshabandiah di Indonesia kiranya harus difahami dengan pemikiran yang lebih umum tentang Islam. Sebab dalam banyak segi gerakan tariqat naqshabandiah merupakan bagian dari kegiatan umat Islam dalam memahami petunjuk-petunjuk agama dari sisi kerohaniahannya. Pokok permasalahannya adalah bagaimana metode, isi dan tujuan pendidikan tariqat naqshabandiah dilaksanakan, ketika membentuk suatu model pendidikan tersendiri. Tariqat yang menekankan aspek praktis dari ajaran tasawwuf dengan melalui meditasi (via kontempletiva) telah membentuk sebuah model pendidikan yang bersifat hirarkis, individualis dengan tujuan untuk memperoleh ilmu kashf/ma'rifat Allah sebagai ilmu yang tertinggi dibandingkan ilmu-ilmu lain. Sistem pendidikan yang dikembangkan dalam model pendidikan ini adalah bersifat guruisme, yakni murid tidak berhak bertanya dan mendebat guru, sebab guru dianggap sebagai individu yang mempunyai kelebihan intuisi dalam mengetahui berbagai rahasia realitas Ketuhanan yang mengganti peran Nabi dalam hal irshad dan ta'lim. Ide-ide dalam ajaran tariqat tentang kemampuan inheren dalam jiwa manusia dalam membebaskan dari hawa nafsu jahat-sumber akhlak tercela serta kemampuan dalam memperoleh pengetahuan tentang Tuhan mempunyai sisi positif dan negatif bagi pendidikan. Sisi positif, pendidikan yang menekankan domain afeksi mendukung bagi mendalamnya keyakinan (iman dan taqwa) akan menjadi senjata dalam menghadapi berbagai dampak negatif di era modern yang penuh dengan kecenderungan sekularisme, dan materialisme yang melanda manusia moderen saat ini. Untuk itu, ajaran tariqat dituntut lebih humanis, empiris serta fungsional dalam kehidupan. Adapun sisi minusnya adalah pendidikan yang mengabaikan domain kognitif dapat menghambat kreativitas murid yang berujung pada rendahnya kemampuan intelektual umat Islam.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectPendidikan Islamen_US
dc.subjectTariqat Naqshabandiahen_US
dc.subjectKegiatan Edukatifen_US
dc.titlePendidikan Islam dalam Tariqat Naqshabandiah (Studi Tentang Kegiatan Edukatif dalam Tariqat Naqshabandiah di Kabupaten Ponorogo)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM2022052


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record