Show simple item record

dc.contributor.authorMustofa, Nur Huri
dc.date.accessioned2026-01-27T03:14:03Z
dc.date.available2026-01-27T03:14:03Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/59792
dc.description.abstractPondok pesantren dalam bacaan teknis merupakan suatu tempat yang dihuni oleh para santri. Pondok pesantren mempunyai kultur yang unik dan digolongkan ke dalam subkultur tersendiri dalam masyarakat Indonesia. Ada tiga elemen yang mampu membentuk pondok pesantren sebagai sebuah subkultur, pertama, pola kepemimpinan pondok pesantren yang mandiri tidak terkooptasi oleh negara, kedua, kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad, ketiga, sistem nilai (value system) yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luas. Unsur-unsur dasar yang membentuk pondok pesantren adalah kyai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Unsur kyai ditempatkan pada posisi sentral dalam komunitas pesantren karena kyai dianggap sebagai pemilik, pengelola dan pengajar kitab kuning sekaligus merangkap inam (pemimpin) pada acara-acara ritual keagamaan. Kehadiran koperasi di lingkungan pondok pesantren menarik untuk diketahui karena koperasi mempunyai prinsip-prinsip dasar yang harus dilakukan sedangkan pesantren mempunyai kultur tersendiri. Pondok pesantren mempunyai potensi ekonomi dan potensi untuk berkembangnya gerakan koperasi karena komunitas yang tinggal dalam satu tempat dan mempunyai kesamaan tujuan. Penulis melakukan studi kasus pada 3 buah kopontren di Kabupaten Bantul yaitu kopontren Al Munawwir Krapyak, kopontren An Nur Ngrukem, dan kopontren Aji Mahasiswa Al Muhsin Krapyak Wetan dengan memakai pendekatan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan satu kopontren dapat melaksanakan seluruh konsep dasar koperasi dan kopontren tersebut maju dan berkembang. Sedangkan dua kopontren lain tidak dapat melaksanakan keseluruhan prinsip dasar koperasi dan tidak dapat berkembang dan cenderung mengalami kemandegan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor antara lain: berdirinya koperasi pondok pesantren tersebut tidak tumbuh dari bawah melainkan adanya instruksi dari atas (pemerintah), kyai sebagai pemegang otoritas tertinggi di pesantren sangat menentukan berkembang tidaknya koperasi pondok pesantren, unit-unit usaha yang potensial telah dikelola oleh kyai atau keluarga kyai sehingga unit usaha yang dikelola kopontren tidak dapat berkembang.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectKoperasi Pondok Pesantrenen_US
dc.subjectKoperasien_US
dc.subjectKabupaten Bantulen_US
dc.titleKoperasi Pondok Pesantren (Studi Kasus Koperasi Pondok Pesantren di Kabupaten Bantulen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM2001023


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record