Gliserol Monolaurat dari Asam Laurat dan Gliserol Kapasitas 10.000 Ton/tahun
Abstract
Gliserol Monolaurat merupakan senyawa ester yang terbentuk dari reaksi antara
gliserol dan asam laurat, berbentuk serbuk putih atau putih kekuningan, dan
beraroma netral. Gliserol monolaurat digunakan sebagai pengemulsi dan pengawet
yang aman untuk makanan, serta bersifat anti mikroba untuk bahan kosmetik dan
farmasi. Proses produksi dilakukan melalui reaksi esterifikasi antara gliserol dan
asam laurat menggunakan katalis heterogen 20% (DMBPSH)HSO4/SG di dalam
Reaktor Tangki Alir Berpengaduk (CSTR) pada suhu 145 °C dan tekanan 1 atm.
Produk keluaran reaktor menghasilkan GML dan air. Pendirian pabrik Gliserol
Monolaurat dengan kapasitas 10.000 ton/tahun direncanakan akan didirikan di
daerah Deli Serdang, Sumatera Utara pada tahun 2029 dengan luas tanah 13.000
m2
. Kebutuhan utilitas diambil dari Sungai Seruwai sebanyak 655.687,803 kg/hari.
Sedangkan kebutuhan listrik untuk operasional pabrik sebesar 592,69 kW disuplai
dari PT PLN Medan Denai. Untuk mengantisipasi adanya pemadaman, maka
disediakan generator sebagai cadangan. Bahan bakar yang digunakan untuk
generator maupun boiler tersebut adalah solar sebanyak 1.341,86 kg/jam. Limbah
pabrik berasal dari proses produksi, laboratorium, kegiatan domestik, dan unit
utilitas, dengan karakteristik meliputi air, etil asetat, asam laurat, bahan kimia, serta
senyawa organik. Hasil analisis risiko menunjukkan bahwa pabrik ini termasuk
dalam kategori low risk. Berdasarkan perhitungan evalusi ekonomi untuk pendirian
pabrik gliserol monolaurat di atas, dibutuhkan modal tetap sebesar
Rp455.833.187.147, Manufacturing cost Rp1.424.659.869.022. Harga jual produksi
sebesar Rp1.897.204.438.226 per tahun, dengan keuntungan sebelum pajak sebesar
Rp227.110.745.662 per tahun serta keuntungan setelah pajak sebesar
Rp170.333.059.246. Nilai Return on Invesment (ROI) sesudah pajak untuk pabrik
ini sebesar 37,36%, Pay Out Time (POT) sesudah pajak yaitu 2,1 tahun, sedangkan
Break Even Point (BEP) sebesar 40,59%, dan Shut Down Point (SDP) sebesar
26,38%. Sehingga untuk analisis kelayakannya termasuk dalam kategori high risk
Nilai-nilai tersebut menunjukan bahwa pabrik ini layak untuk dipertimbangkan
pendiriannya dan dapat diteruskan ke tahap perencanaan pabrik.
Collections
- Chemical Engineering [1336]
