| dc.description.abstract | Tren kuliner unik semakin menjadi daya tarik utama bagi wisatawan,
memunculkan konsep "hidden gem" yang menggabungkan pengalaman mendalam
dengan suasana klasik dan nostalgia dengan pengalaman nicetorizm. Kawasan Baciro,
Yogyakarta, dengan lokasinya yang strategis di tengah pemukiman padat dan dekat area
kos-kosan, namun minim fasilitas kuliner modern, memiliki potensi besar untuk
pengembangan kios bubur kekinian. Proyek ini bertujuan mentransformasi bangunan
eksisting menjadi kios bubur modern yang mempertahankan cita rasa tradisional
sekaligus menyuguhkan atmosfer nostalgia. Pendekatan desain menggunakan prinsip
adaptive reuse, terinspirasi dari studi kasus Tea OZ di Moganshan, yang memadukan
elemen tradisional dengan material modern. Analisis SWOT mengidentifikasi lokasi
strategis dan konsep unik sebagai kekuatan utama, sementara tantangan meliputi
aksesibilitas terbatas dan persaingan dengan tempat makan lain. Business Model Canvas
(BMC) digunakan untuk merancang strategi pemasaran, termasuk kolaborasi dengan
influencer lokal dan komunitas sekitar guna meningkatkan daya tarik dan eksposur.
Metode penelitian menggunakan "Design Thinking," yang yang meliputi lima tahap
empathize, define, ideate, prototype, dan evaluate, untuk menghasilkan solusi inovatif
berbasis kebutuhan pengguna. Sebagai penelitian desain, proyek ini diharapkan dapat
menjadi studi konseptual yang memberikan wawasan dan inspirasi bagi pengembangan
ruang kuliner unik di kawasan urban dengan pendekatan yang berfokus pada adaptasi
inovatif dan nilai lokal | en_US |