Analisis Dan Mitigasi Risiko Rantai Pasok Pada Pekerjaan Tanah Timbunan Proyek Konstruksi Jalan dengan Metode FMEA (Studi Kasus Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo – Yogyakarta – YIA Kulon Progo)
Abstract
Keberhasilan dalam penyelesaian proyek konstruksi dipengaruhi oleh banyak
faktor yang saling memiliki ketergantungan satu sama lain, salah satunya adalah
rantai pasok. Pada tahun 2018, Dinas Pekerjaan Umum dan Perencanaan Tata
Ruang Provinsi Sumatera Barat, Indonesia memiliki 24 paket pekerjaan konstruksi
jalan. Hanya 33.3% yang selesai tepat waktu dan sisanya sebesar 66.7% mengalami
keterlambatan, salah satunya adalah akibat keterlambatan material (Rita dkk.,
2021). Pekerjaan timbunan pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo – Yogyakarta
– YIA Kulon Progo Seksi I Paket 1.2 tidak terlepas dari potensi keterlambatan
tersebut. Rantai pasok menjadi perhatian khusus pada proyek ini, dikarenakan
kebutuhan material yang besar serta sulitnya menemukan material timbunan yang
sesuai spesifikasi dapat menjadi kendala jika risiko-risiko dalam setiap prosesnya
tidak dikelola dengan baik.
Instrumen yag digunakan adalah Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
yaitu dengan mengidentifikasi kegagalan-kegagalan dalam setiap proses serta
dampak yang dapat terjadi terhadap kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat
menentukan tindakan mitigasi untuk meminimalkan risiko-risiko yang dapat
terjadi.
Hasil penelitian didapatkan 5 alur aktivitas supply chain pekerjaan timbunan
tanah yaitu bahan baku, supplier, pabrikasi, distribusi, dan konsumen. Terdapat 41
risiko yang terbagi menjadi 3 tingkat risiko. Pada tahapan bahan baku terdapat 4
risiko sedang dan 2 risiko tinggi, pada tahapan supplier terdapat 7 risiko sedang,
pada tahapan pabrikasi terdapat 1 risiko rendah dan 6 risiko sedang, pada tahapan
distribusi terdapat 2 risiko rendah dan 11 risiko sedang, serta pada tahapan
konsumen terdapat 8 risiko sedang. Terdapat 47 tindakan pengendalian yang terbagi
menjadi 5 aspek yaitu Man, Money, Machine, Material dan Method.
