Show simple item record

dc.contributor.authorAlfirera, Intan Fiona
dc.date.accessioned2025-11-28T02:02:55Z
dc.date.available2025-11-28T02:02:55Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/58863
dc.description.abstractPenelitian ini menganalisis strategi diplomasi Korea Selatan sebagai middle power dalam membangun kerja sama institusional dengan ASEAN pada era Presiden Moon Jae-in (2017–2022) melalui kebijakan New Southern Policy (NSP) dan pengembangannya, New Southern Policy Plus (NSP Plus). Upaya ini dilatarbelakangi kebutuhan Korea Selatan untuk mengurangi ketergantungan pada empat kekuatan besar tradisional (Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Rusia) serta memperluas jangkauan diplomasi ke Asia Tenggara yang memiliki nilai strategis dan ekonomi tinggi. Dengan menggunakan kerangka middle power activism, penelitian ini menekankan tiga dimensi kapasitas, kreativitas, dan kredibilitas sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Korea Selatan mampu mengoptimalkan peran institusi resmi, merancang inisiatif diplomasi inovatif sesuai kebutuhan kawasan, dan membangun kepercayaan mitra melalui konsistensi kebijakan serta pemanfaatan soft power. Secara keseluruhan, kerja sama ini dipahami bukan sekadar kepentingan pragmatis jangka pendek, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat legitimasi, pengaruh, dan posisi Korea Selatan sebagai aktor menengah di Asia Tenggara.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectASEANen_US
dc.subjectKerja Sama Institusionalen_US
dc.subjectKorea Selatanen_US
dc.subjectMiddle Poweren_US
dc.subjectNew Southern Policyen_US
dc.titleStrategi Yang Mendorong Kerja Sama Institusional Antara Korea Selatan dan Asean di Era Presiden Moon Jae-inen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21323189


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record