| dc.description.abstract | Kabupaten Kebumen memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor pariwisata dan konservasi,
khususnya melalui pemanfaatan ekosistem hutan mangrove di kawasan Logending, Kecamatan Ayah.
Meskipun hutan mangrove ini telah dikenal sebagai destinasi wisata, pemanfaatannya masih belum optimal baik
dari sisi fasilitas edukasi, konservasi, maupun ekonomi masyarakat sekitar. Di sisi lain, keberadaan Geopark
Kebumen yang telah diakui UNESCO memberikan peluang besar untuk mengembangkan kawasan ini secara
berkelanjutan. Namun, degradasi lingkungan akibat aktivitas manusia dan kurangnya kesadaran akan
pentingnya konservasi mangrove menjadi permasalahan mendasar. Oleh karena itu, diperlukan perancangan
bangunan konservasi dan wisata edukasi mangrove dengan pendekatan kontekstual yang mempertimbangkan
aspek ekologis, budaya lokal, dan kondisi fisik tapak. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan
bangunan konservasi yang harmoni antara lingkungan pesisir, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan
wisatawan akan pentingnya pelestarian ekosistem mangrove. Pemecahan persoalan perancangan ini dikaitkan
dengan pendekatan kontekstual yang dikaji dan dikaitkan dengan tipologi dan lokasi, sehingga didapatkan
strategi tata ruang yang mengikuti bangunan tradisional Jawa, massa bangunan yang yang mengikuti zona
konservasi, menggunakan bukaan penghawaan dan pencahayaan alami, menggunakan material lokal yang
ramah lingkungan, mengatur sirkulasi pengguna dengan sifat ruang, terdapatnya penggunaan struktur
panggung, dan mendesain lansekap sebagai elemen pendukung kinerja bangunan. Hasil yang didapatkan
dalam perancangan berupa keberhasilan pengujian desain, seperti struktur kuda-kuda kayu jati yang memiliki
gaya desak-tarik yang kecil berdasarkan STRIAN, penghawaan alami yang masuk ke bangunan sebanyak
0,8m/s-0,4m/s, didapatkannya kenyamanan dari simulasi CBE, pencahayaan alami yang memiliki keberhasilan
80% dari simulasi Velux, dan keberhasilan penerapan kontekstual dari bentuk dan tata ruang bangunan. Dari
pengujian tersebut didapatkan kesimpulan perancangan bangunan konservasi mangrove dan wisata edukasi
telah berhasil menerapkan pendekatan kontekstual dan pengujian terhadap kenyamanan cahaya, penghawaan,
dan thermal. | en_US |