• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Engineering Design Innovation
    • Architecture
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Engineering Design Innovation
    • Architecture
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Perancangan Pusat Kebudayaan sebagai Ruang Publik Pada Kawasan Taman Balai Jagong Kota Kudus dengan Pendekatan Arsitektur Regionalisme Kritis

    Thumbnail
    View/Open
    21512135.pdf (15.24Mb)
    Date
    2025
    Author
    Adi, Faisal Akbar Kusma
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Kota Kudus memiliki kekayaan budaya yang berakar dari peran Sunan Kudus dalam penyebaran Islam melalui akulturasi budaya Hindu-Buddha dan animisme, yang membuat ajaran Islam mudah diterima masyarakat (Maulidya Ruhilla et al., 2023). Identitas budaya ini tercermin pada arsitektur Menara Kudus, tradisi lokal seperti Sedekah Bumi dan Dhandhangan, serta kriya khas berupa Tari Kretek, gebyok Kudus, dan busana adat. Menurut Peraturan Bupati Kudus Nomor 15 Tahun 2016, terdapat 318 kelompok seni budaya yang masih aktif, menunjukkan tingginya potensi kesenian di masyarakat. Namun, Ajeng Purwani (dalam jurnal perancangan Pusat Kebudayaan Kudus) menegaskan bahwa minimnya fasilitas edukasi dan ruang ekspresi menyebabkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap budayanya sendiri, yang berisiko menjadikannya terlupakan. Hal ini juga diperkuat oleh laporan Muria News yang menyebut masih banyak pelaku seni di Kudus yang tidak memiliki wadah untuk berkreasi. Di sisi lain, Kudus memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi kreatif di Jawa Tengah. Berdasarkan data PDRB 2019, Kudus menempati peringkat ketiga setelah Semarang dan Cilacap, meskipun merupakan salah satu kabupaten terkecil di Jawa Tengah (Pratika & Raidi, 2022). Kontribusi sektor industri terhadap PDRB mencapai 61,44%, meliputi industri besar, sedang, kecil, dan rumah tangga, dengan data produksi serta jumlah tenaga kerja yang tersebar di berbagai kecamatan. Kudus juga memiliki banyak komunitas kreatif di bidang desain, kriya, musik, radio, fashion, dan seni pertunjukan, namun masih menghadapi keterbatasan pendampingan dari pemerintah daerah. Dengan meningkatnya jumlah penduduk setiap tahunnya, kebutuhan ruang publik dan ruang terbuka hijau semakin mendesak, terutama karena kawasan ruang terbuka di Kudus hanya terdapat di pinggir kota. Taman Balai Jagong sebagai ruang publik strategis dipilih untuk mewadahi kebutuhan tersebut sekaligus menjadi pusat pelestarian budaya. Melalui penerapan pendekatan arsitektur critical regionalism, perancangan Cultural Center diharapkan dapat menjaga identitas lokal Kudus sekaligus mewadahi berbagai aktivitas seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, warisan budaya daerah dapat terus terpelihara dan berkembang di tengah arus modernisasi serta berkontribusi terhadap penguatan sektor ekonomi kreatif di Kabupaten Kudus.
    URI
    dspace.uii.ac.id/123456789/58684
    Collections
    • Architecture [4119]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV