| dc.description.abstract | Perancangan Pusat Penangkaran dan Edukasi Burung Maleo di Sigi,
Sulawesi Tengah, bertujuan untuk mendukung konservasi burung
Maleo (Macrocephalon maleo), satwa endemik Sulawesi yang
berstatus Endangered (EN) menurut IUCN dan terdaftar dalam
Appendix I CITES. Populasi Maleo terus menurun akibat perburuan
liar, eksploitasi telur, dan kerusakan habitat. Burung Maleo memiliki
peran ekologi dalam penyebaran biji tanaman dan pengendalian
hama, sehingga, kepunahannya dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem. Lokasi tapak di Sigi berdekatan dengan Taman Nasional
Lore Lindu, sehingga memiliki banyak aktivitas penelitian dan
edukasi, namun belum ada wadah yang memadai meskipun tingkat
kunjungan dan penelitian tinggi. Perancangan ini bertujuan
merancang pusat penangkaran yang meningkatkan kesadaran
masyarakat terhadap konservasi Maleo melalui pendekatan
arsitektur ekologi. Prinsip desain mencakup minim intervensi pada
lahan berkontur, penggunaan material lokal, struktur ekologi, dan
hemat energi. Perancangan juga mendukung konservasi vegetasi
eksisting dan sesuai dengan regulasi daerah maupun Taman
Nasional Lore Lindu. Desain akhir menghasilkan integrasi fungsional
antara penangkaran burung Maleo dan aktivitas manusia seperti
edukasi, penelitian, serta wisata konservasi. Teknologi geotermal
diterapkan untuk menjaga kestabilan suhu area peneluran di angka
35°C, yang merupakan suhu optimal bagi proses inkubasi telur
Maleo. Agar kenyamanan termal manusia tetap terjaga meskipun
berdekatan dengan area peneluran, digunakan pendekatan desain
pasif berupa penggunaan greenwall sebagai serta dinding papan
kayu ganda yang berfungsi sebagai insulasi termal dan akustik.
Sehingga, suhu pada peneluran stabil 35°C namun, viewing gallery
tetap pada <28°CSirkulasi yang dirancang adaptif terhadap kontur
alami dan vegetasi eksisting, sehingga tidak hanya meminimalisir
dampak ekologis, namun juga memperkaya pengalaman
pengunjung terhadap ekologis kawasan. | en_US |