• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Engineering Design Innovation
    • Architecture
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Engineering Design Innovation
    • Architecture
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Perancangan Pusat Penangkaran dan Edukasi Burung Maleo di Sigi Sulawesi Tengah dengan Pendekatan Arsitektur Ekologi

    Thumbnail
    View/Open
    21512054.pdf (81.99Mb)
    Date
    2025
    Author
    Azzahra, Fatimah
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Perancangan Pusat Penangkaran dan Edukasi Burung Maleo di Sigi, Sulawesi Tengah, bertujuan untuk mendukung konservasi burung Maleo (Macrocephalon maleo), satwa endemik Sulawesi yang berstatus Endangered (EN) menurut IUCN dan terdaftar dalam Appendix I CITES. Populasi Maleo terus menurun akibat perburuan liar, eksploitasi telur, dan kerusakan habitat. Burung Maleo memiliki peran ekologi dalam penyebaran biji tanaman dan pengendalian hama, sehingga, kepunahannya dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Lokasi tapak di Sigi berdekatan dengan Taman Nasional Lore Lindu, sehingga memiliki banyak aktivitas penelitian dan edukasi, namun belum ada wadah yang memadai meskipun tingkat kunjungan dan penelitian tinggi. Perancangan ini bertujuan merancang pusat penangkaran yang meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi Maleo melalui pendekatan arsitektur ekologi. Prinsip desain mencakup minim intervensi pada lahan berkontur, penggunaan material lokal, struktur ekologi, dan hemat energi. Perancangan juga mendukung konservasi vegetasi eksisting dan sesuai dengan regulasi daerah maupun Taman Nasional Lore Lindu. Desain akhir menghasilkan integrasi fungsional antara penangkaran burung Maleo dan aktivitas manusia seperti edukasi, penelitian, serta wisata konservasi. Teknologi geotermal diterapkan untuk menjaga kestabilan suhu area peneluran di angka 35°C, yang merupakan suhu optimal bagi proses inkubasi telur Maleo. Agar kenyamanan termal manusia tetap terjaga meskipun berdekatan dengan area peneluran, digunakan pendekatan desain pasif berupa penggunaan greenwall sebagai serta dinding papan kayu ganda yang berfungsi sebagai insulasi termal dan akustik. Sehingga, suhu pada peneluran stabil 35°C namun, viewing gallery tetap pada <28°CSirkulasi yang dirancang adaptif terhadap kontur alami dan vegetasi eksisting, sehingga tidak hanya meminimalisir dampak ekologis, namun juga memperkaya pengalaman pengunjung terhadap ekologis kawasan.
    URI
    dspace.uii.ac.id/123456789/58626
    Collections
    • Architecture [4119]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV