Perancangan Jogja Planning Gallery di Yogyakarta dengan Pendekatan Desain Kolaboratif
Abstract
Perancangan Jogja Planning Gallery (JPG) di kawasan Malioboro, Yogyakarta dilatarbelakangi oleh kebutuhan ruang
edukatif dan informatif terhadap arah pembangunan kota secara berkelanjutan. JPG berada di kawasan Sumbu Filosofi
yang merupakan warisan budaya dunia UNESCO, perancangan dilakukan dengan menyesuaikan regulasi KCB - Malioboro.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan budaya tanpa mengabaikan tuntutan modernisasi.
Pembangunan Jogja Planning Gallery saat ini masih dalam tahap persiapan dan fokus utama pemenuhan syarat Heritage
Impact Assessment (HIA) untuk memastikan pembangunan tidak merusak nilai budaya kawasan yang telah ditetapkan
sebagai warisan budaya tak benda UNESCO, ketiga pemenang di kolaborasikan dari 3 desain karya dengan menambahkan
ide baru atau menyederhanakan gagasan yang telah ada. Perancangan JPG mengintegrasikan tiga karya pemenang
sayembara menjadi satu rancangan yang harmonis secara bentuk, ruang, dan konsep. Galeri ini akan menjadi ruang publik
yang edukatif dan informatif, menyampaikan narasi perencanaan Kota Yogyakarta. Gaya arsitektur Indis, China, dan
modern digabungkan secara kontekstual untuk membentuk identitas visual yang kuat dan menghormati keberagaman
budaya. Desain juga mempertimbangkan keterkaitan dengan lingkungan sekitar, termasuk nilai-nilai kawasan Sumbu
Filosofi dan cagar budaya. Prinsip green building diterapkan guna mendukung keberlanjutan. Jogja Planning Gallery
merupakan sebuah galeri edukatif dan informatif yang berfungsi sebagai pusat informasi, narasi sejarah, dan visi masa
depan perencanaan Kota Yogyakarta. Konsep perancangan mengintegrasikan nilai budaya lokal, filosofi ruang kota, dan
keberlanjutan lingkungan dengan memadukan arsitektur Indis, Tionghoa, dan modern tropis secara harmonis. Tata massa
bangunan disusun mengikuti alur narasi waktu “Jogja Masa Lalu – Masa Kini – Masa Depan” dengan adaptive reuse pada Ex
Gedung DPRD DIY sebagai galeri sejarah dan filosofi, sementara bangunan baru menampung galeri perkotaan, budaya, seni,
dan masa depan. Keseluruhan tapak seluas 25.400 m2 dengan luas bangunan ±19.096,7 m2 dilengkapi ruang publik, plaza,
area hijau, fasilitas pendukung seperti ruang pertunjukan, kafe, mushola, toilet, serta area parkir. Identitas visual
diwujudkan melalui penggunaan atap limasan Jawa, bangunan berundak, fasad lengkung bergaya Indis, ornamen kayu
bermotif Cina, dan elemen kaca modern yang mendukung prinsip green building, sehingga galeri ini hadir sebagai ikon baru
Yogyakarta yang edukatif, partisipatif, sekaligus melestarikan nilai budaya.
Collections
- Architecture [4119]
