Reaktivasi Stasiun Wonosobo: Pendekatan Neuroarchitecture dalam Perancangan Stasiun Transit Inklusif yang Nyaman dan Humanis
Abstract
Stasiun Wonosobo, yang dahulu menjadi simpul penting
transportasi pada masa kolonial hingga akhir dekade 1970-an, kini
menjadi saksi bisu transformasi moda transportasi di Kabupaten
Wonosobo. Penutupan stasiun akibat rusaknya infrastruktur dan
meningkatnya dominasi jalur darat berdampak pada tingginya
ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan logistik berbasis
truk ODOL (Over Dimension Over Loading), yang berkontribusi
pada kemacetan dan risiko kecelakaan. Menanggapi upaya
reaktivasi jalur kereta api Purwokerto–Wonosobo, perancangan
kembali Stasiun Wonosobo menjadi krusial, tidak hanya sebagai
infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai katalis pemulihan
identitas kota dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pendekatan Neuroarchitecture digunakan dalam perancangan ini
untuk menciptakan lingkungan transit yang tidak hanya fungsional,
tetapi juga mampu membangkitkan pengalaman emosional
kolektif masyarakat terhadap stasiun dan perjalanan kereta api.
Desain diarahkan untuk merespons kebutuhan adaptif pengguna
akan kenyamanan, keamanan, dan interaksi sosial, dengan
memperhatikan keterpaduan ruang bagi penumpang dan logistik.
Dengan demikian, stasiun tidak hanya menjadi titik transit, tetapi
juga ruang publik yang inklusif dan humanis, yang mendukung
pergerakan urban berkelanjutan di kawasan dataran tinggi
Wonosobo.
Collections
- Architecture [3988]
