Hubungan Psychological Well-being dengan Quarter Life Crisis Pada Dewasa Awal
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya fenomena krisis seperempat abad
(quarter life crisis) pada individu dewasa awal yang ditandai dengan kebingungan arah
hidup, tekanan dalam mengambil keputusan, serta ketidakpastian di masa depan. Salah
satu faktor yang diduga berperan dalam menghadapi kondisi ini adalah kesejahteraan
psikologis (psychological well-being), yaitu kemampuan individu untuk menjalani
hidup secara positif dan produktif. Hipotesis penelitian ini mengasumsikan adanya
hubungan negatif yang signifikan antara tingkat kesejahteraan psikologis dan
kecenderungan mengalami krisis pada masa transisi dewasa. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Responden
berjumlah 271 individu berusia 20-29 tahun dengan status pekerjaan beragam, yakni
mahasiswa, fresh graduate, karyawan, dan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah psychological well-being scale versi 18 item dari Ryff untuk
mengukur enam dimensi kesejahteraan psikologis, serta quarter life crisis scale yang
disusun oleh Affandi dkk. berdasarkan teori Robbins dan Willner. Hasil analisis
menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kesejahteraan
psikologis dan krisis seperempat abad, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi
kesejahteraan psikologis seseorang, semakin rendah kecenderungan mengalami krisis
dalam aspek emosional, pengambilan keputusan, hingga relasi interpersonal. Aspek
penguasaan lingkungan dan hubungan positif dengan orang lain menjadi indikator
yang paling kuat dalam menurunkan intensitas krisis. Penelitian ini memberikan
implikasi yang penting terkait pentingnya penguatan kesejahteraan psikologis sebagai
strategi preventif dalam menghadapi tekanan dan ketidakpastian di masa dewasa awal.
Collections
- Psychology [243]
