| dc.description.abstract | Indonesia terletak pada zona dengan aktivitas seismik yang tinggi karena adanya pertemuan
beberapa lempeng tektonik utama yang berinteraksi. Bengkulu merupakan wilayah yang memiliki
aktivitas seismik tinggi yang berada tepat di antara 2 jalur gempa, yaitu sepanjang Sesar Sumatra
di sekeliling Bukit Barisan, dan pusat gempa sepanjang Sesar Mentawai yang berada di lempeng
Indo–Australia. Hal tersebut menyebabkan Bengkulu memiliki kerentanan tinggi terhadap gempa
bumi. Solusi untuk mengantisipasi kerentanan tersebut yaitu dengan adanya pencatatan data
rekaman gerak tanah riwayat waktu (Time History) yang nantinya dapat digunakan sebagai
modal untuk analisis gedung tahan gempa maupun pembuatan peta deagregasi hazard. Proses
modifikasi dari gerak tanah dilandaskan peraturan SNI 8899:2020 tentang Tata Cara Pemilihan
dan Modifikasi Gerak Tanah Permukaan untuk Perencanaan Gedung Tahan Gempa. Deagregasi
dilakukan dengan menentukan nilai Magnitude dominan, dan Jarak dominan yang sesuai dengan
kondisi tanah dan Vs30 Provinsi Bengkulu. Pemilihan gerak tanah diambil dari website PEER
untuk gempa Shallow Crustal, dan UCLA untuk gempa subduksi. Data tersebut kemudian
dicocokan dengan respons spektrum target MCER dengan periode ulang 2500 tahun. Dari hasil
pencocokan, nantinya dapat dibuat menjadi artificial ground motion yang dapat digunakan
dalam permodelan analisis gedung. Dari ketiga jenis sumber gempa didapatkan hasil kecocokan
terbaik berasal dari gempa kombinasi dengan average misfits sebesar 1,96175%. Untuk sumber
gempa Shallow Crustal sebesar 2,7742%; gempa Benioff sebesar 2,5125%; dan gempa
Megathrust sebesar 3,45124%. Hal tersebut membuktikan jika kombinasi antara ketiga sumber
gempa memberikan gambaran yang paling komprehesif dan realistis tentang kondisi seismik di
Provinsi Bengkulu. | en_US |