Kekerasan Struktural pada Jurnalis Filipina Pasca Pembantaian Maguindanao 2009-2020
Abstract
Penelitian ini berangkat dari fenomena budaya kekerasan politik di
lingkungan pemberitaan Filipina. Secara khusus menyinggung tragedi Maguindanao
2009 yang menelan banyak korban sipil termasuk banyak jurnalis. Yang mana
peristiwa tersebut menjadi yang terburuk juga menyinggung hak asasi manusia mulai
bahkan hingga peradilannya. Motif politik yang kental membawa penelitian ini dan
mencoba menganalisa pasca insiden tersebut, bagaimana budaya kekerasan politik
terhadap jurnalis apakah masih relevan. Dengan merefleksikan sejarah serta statistik
kejadian demi kejadian dalam kurun waktu 2009-2020, adanya sistem terstruktur
yang membuat kekerasan makin terpupuk.
Teori kekerasan oleh Johan Galtung dapat membingkai fenomena yang
disebut sebagai kekerasan struktural. Kekerasan politik yang sudah mengakar sejak
lama juga dijalankan oleh elit dan aktor politik, dan disangga oleh apa yang disebut
klan dinasti. Impunitas dan vigilantisme mewakili adidaya untuk sebuah tujuan
politik, sebagai produk dari budaya dan kekerasan struktural dimana hal tersebut
harus mengesampingkan urusan pihak lain. Rappler dan ABS CBN, jurnalis terhimpit
diantara persaingan politik yang sampai tak memberi mereka ruang untuk advokasi.
Penelitian ini berupaya untuk memetakan kekerasan struktural tersebut.
Collections
- International Relations [914]
