| dc.description.abstract | Isu atau fenomena keberlanjutan sudah semakin banyak terdengar di berbagai belahan
dunia yaitu mulai dari permasalahan sosial, lingkungan, dan ekonomi. Maka dari itu, muncul
sebuah konsep yang dapat memecahkan masalah keberlanjutan yaitu konsep pembangunan
berkelanjutan. Dengan itu pula di dalam arsitektur terdapat konsep yang menjadi solusi dalam
mengatasi permasalahan keberlanjutan yaitu konsep arsitektur berkelanjutan. Dalam konsep
arsitektur berkelanjutan terdapat pula konsep arsitektur ekologis yang memiliki tujuan yang sejalan
dalam menangani permasalahan keberlanjutan. Permasalahan keberlanjutan ini banyak terjadi di
desa-desa, sehingga terdapat desa yang dinamakan sebagai desa wisata lingkungan karena di
dalamnya berkontribusi untuk menangani isu lingkungan. Salah satu desa yang resmi dinobatkan
sebagai desa wisata lingkungan yaitu desa wisata sukunan yang terletak di Kabupaten Sleman,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian tesis ini bertujuan untuk menemukan atau membentuk parameter-parameter
keberlanjutan yang baru untuk mengukur keberlanjutan desa wisata lingkungan, kemudian juga
bertujuan untuk membuktikan seberapa tinggi nilai keberlanjutan rumah desa wisata lingkungan
sukunan, serta membandingkan nilai keberlanjutan antara penilaian logik (objektif) dan penilaian
emik (subjektif) pada rumah desa wisata lingkungan sukunan. Metode penelitian ini adalah
kuantitatif yaitu pada penilaian logik dilakukan dengan cara uji di lapangan yang sesuai dengan
indikator tolok ukur yang telah diolah, dan penilaian emik dilakukan dengan membagikan
kuesioner untuk mendapatkan hasil persepsi penghuni dan persepsi pengunjung. Hasil pada
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapatnya perbedaan yang signifikan antara penilaian logik
(objektif) dan penilaian emik (subjektif), sehingga berdasarkan penilaian logik bahwa nilai
keberlanjutan rumah desa wisata lingkungan sukunan memiliki nilai yang rendah, sehingga dapat
dikategorikan bahwa rumah desa wisata lingkungan sukunan belum dapat disebut sebagai rumah
yang berkelanjutan, dan desa wisata lingkungan sukunan belum layak diklaim sebagai desa wisata
lingkungan. | en_US |