| dc.description.abstract | Pidato ini membahas pentingnya dekarbonisasi di Indonesia, terutama melalui sektor bangunan, sebagai langkah signifikan dalam mengatasi isu keberlanjutan. Keberlanjutan dipandang dari berbagai perspektif, termasuk empiris, logis, etis, emik, dan transendental Islam, yang semuanya menegaskan urgensi isu ini. Indonesia memiliki komitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29%-41% pada tahun 2030, dengan dekarbonisasi menjadi kunci utama, mengingat karbon adalah substansi GRK paling dominan. Meskipun sektor bangunan menyumbang 6% dari dekarbonisasi, konsumsi energi bangunan berkontribusi 27% pada produksi CO2, sebagian besar dari bahan bakar fosil, menunjukkan peran kritis sektor ini dalam dekarbonisasi . Untuk mencapai target ini, pendekatan desain berbasis kinerja (Performance Based Design) sangat krusial, di mana desain bangunan harus fokus pada pencapaian kinerja yang terukur sejak awal, meliputi empat tahap sumber daya: konstruksi, operasional, pengubahsesuaian (retrofitting), dan demolisi. Strategi hibrida, yang mengintegrasikan perancangan dasar, pasif, dan aktif, serta sistem kendali cerdas, diusulkan sebagai solusi efektif untuk menekan konsumsi energi operasional dan embodied energy bangunan. Hal ini mencakup reformulasi standar kenyamanan termal untuk mengurangi kebutuhan energi dan optimalisasi selubung bangunan, serta pemanfaatan energi alamiah dan teknologi canggih. Tantangan dan peluang riset masih terbuka luas untuk pengembangan ilmu arsitektur, praktik profesional, dan regulasi pemerintah dalam mewujudkan bangunan dekarbonisasi di Indonesia. | |