| dc.description.abstract | Pendidik dihadapkan pada banyak persoalan salah satunya adalah mengenai penerapan
strategi pembelajaran yang tepat untuk dapat memberikan pembelajaran yang anak butuhkan.
Terlebih anak yang dihadapi adalah anak berkebutuhan khusus yang memiliki berbagai macam
keterbatasan yang pastinya strategi yang diterapkan juga tidak bisa sembarangan. Tepat tidaknya
strategi inilah yang nantinya akan berpengaruh kedalam diri sang anak terlebih kepada karakter
peserta didik anak berkebutuhan khusus. Seorang pendidik juga harus memahami karakteristik sang
anak. Maka, diperlukanlah kerjasama dari berbagai pihak seperti pendidik, kepala sekolah maupun
walimurid yang harus memberikan pendidikan karakter yang baik untuk anak berkebutuhan khusus
agar nantinya anak bisa tumbuh dan berkembang secara mandiri dan mampu berosialisasi dengan
lingkungan sekitar. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi
strategi pembelajaran guru dalam pembentukan karakter anak berkebutuhan khusus dan juga
mengevaluasi jalannya strategi yang sudah diterapkan di SLB Aisyiyah Sa’adah Wonosobo.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif
deskriptif, informan yang diambil dalam penelitian ini adalah pendidik, kepala sekolah dan wali
murid SLB Aisyiyah Sa’adah Wonosobo yang diambil menggunakan teknik purposive sampling.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui observasi, wawancara dan
dokumentasi, keabsahan data menggunakan triangulasi data.
Hasil penelitian ini adalah 1) strategi yang diterapkan oleh pendidik adalah strategi
interaktif dengan menggunakan kurikulum merdeka yang mengacu kepada karakter dalam P5 (Profil
Pelajar Pancasila) selain itu juga menerapkan pembelajaran bina diri untuk anak berkebutuhan
khusus yang diharapkan nantinya mereka mampu mengurus dirinya sendiri 2). Evaluasinya adalah
pendidik di SLB Aisyiyah Sa’adah sejatinya belum paham akan metode evaluasi yang digunakan
untuk mengukur tercapainya suatu strategi pembelajaran, belum tersedianya sarana prasarana yang
memadai, pendidik yang selalu silih berganti, namun disisi lain karakter anak disana menjadi lebih
baik terkait kemandiriannya, rasa percaya dirinya dan juga kemampuan bersosialisasi dengan
lingkungan sekitar. | en_US |