Evaluasi Penggunaan Antibiotik di Unit Perawatan Intensif: Analisis Pada Hasil Terapi dan Parameter PK/PD
Abstract
Latar belakang: Pasien ICU memiliki risiko tinggi terhadap infeksi, sehingga
memerlukan terapi antibiotik. Penggunaan antibiotik berpengaruh pada
keberhasilan terapi.
Tujuan: Mengetahui hubungan pola pemberian antibiotik dengan respons klinis
pasien ICU, menganalisis pengaruh pola terhadap parameter PK/PD, serta
mengidentifikasi faktor klinis yang memengaruhi efektivitas terapi antibiotik.
Metode: Penelitian observasional deskriptif-analitik dengan pendekatan
retrospektif terhadap 62 pasien ICU di RSA UGM yang menerima terapi antibiotik
pada tahun 2024.
Analisis Data: Data pasien dianalisis menggunakan perangkat lunak Monolix dan
SPSS. Parameter PK yang dianalisis mencakup clearance dan volume distribusi,
sementara parameter PD meliputi IC50, kout, dan gamma. Pengaruh faktor klinis
seperti usia, berat badan, dan jenis kelamin terhadap parameter PK/PD dianalisis
menggunakan uji korelasi dan Wald. Uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahi
hubungan pola pemberian antibiotik dengan respons klinis.
Hasil: Antibiotik yang paling sering digunakan adalah meropenem, seftriakson, dan
Levofloxacin. Efektivitas klinis tertinggi ditemukan pada Meropenem 1 g/12 jam
dan Levofloxacin 750 mg/24 jam (85,7%). Namun, tidak terdapat hubungan
signifikan antara pola pemberian antibiotik dan respons klinis (p=0,479). Model
terbaik untuk meropenem adalah indirect response dengan mekanisme inhibition of
production, dengan nilai IC50 sebesar 1,91 (RSE 4,12%). Grafik observations vs
predictions menunjukkan proporsi outlier <10%, menandakan prediksi model
cukup akurat. Faktor usia dan berat badan diketahui memengaruhi parameter
PK/PD, khususnya IC50 dan kout.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara pola pemberian antibiotik
dan respons klinis. Pola pemberian antibiotik memengaruhi parameter PK/PD, dan
pemodelan populasi dapat mendukung optimalisasi terapi pada pasien ICU.
Collections
- Pharmacy [1896]
