| dc.description.abstract | Latar belakang: Pengobatan tiroid melibatkan berbagai pilihan obat yang
memiliki tingkat efektivitas yang beragam. Selain itu, reaksi yang timbul dari
penggunaan obat dapat berbeda-beda, tergantung pada berbagai faktor yang
memengaruhinya.
Tujuan: Penelitian ini menilai efektivitas dan menganalisis gambaran kejadian
reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) serta faktor-faktor yang memengaruhi
dari penggunaan obat gangguan tiroid di RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional potong-lintang
retrospektif pada pasien gangguan tiroid di RS PKU Muhammadiyah Gamping
periode 2020–2024.
Analisis hasil: Efektivitas dan ROTD dinilai berdasarkan gejala dan/atau tanda
klinis dalam rekam medis. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji
bivariat (chi-square/Fisher exact) dan regresi logistik multivariat, dengan hasil
disajikan dalam nilai p, odds ratio (OR), dan interval kepercayaan 95% (IK95%).
Hasil: Penelitian melibatkan 102 pasien hipertiroid dengan kombinasi PTU dan
propranolol, serta 6 pasien hipotiroid dengan tunggal levotiroksin sebagai regimen
pengobatan paling efektif. Faktor yang memengaruhi efektivitas hipertiroid yaitu
usia (OR 3,266, IK 95% 1,112 – 11,795) dan jenis kelamin (OR 3,490, IK 95%
1,028 – 11,852). ROTD akibat penggunaan obat hipertiroid antara lain hipotiroid
iatrogenik dan intoleransi gastrointestinal. Adapun pada pasien hipotiroid tidak
dilakukan analisis mendalam dikarenakan keterbatasan jumlah sampel.
Kesimpulan: Mayoritas pasien gangguan tiroid yang mendapatkan pengobatan
menunjukan respon klinis yang diharapkan dengan kejadian ROTD pada pasien
hipertiroid terjadi pada 15 pasien (14,7%). Sedangkan pada pasien hipotiroid tidak
ditemukan kejadian ROTD. | en_US |