Show simple item record

dc.contributor.authorMeiranda, Putri Annisa
dc.date.accessioned2025-05-23T07:12:27Z
dc.date.available2025-05-23T07:12:27Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/55981
dc.description.abstractLatar belakang: Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) mengandung kurkumin dengan bioavailabilitas rendah akibat kelarutan dan stabilitasnya yang buruk. Formulasi S-SNEDDS dikembangkan untuk meningkatkan kelarutan dan efektivitas farmakologinya melalui campuran minyak, surfaktan, dan ko-surfaktan. Namun, peningkatan bioavailabilitas juga berisiko meningkatkan toksisitas karena sejumlah besar obat diserap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profil ketoksikan subkronis sediaan S-SNEDDS temulawak. Metode: S-SNEDDS temulawak dibuat dengan mencampurkan ekstrak kental temulawak, Tween 20, dan Labrasol menjadi SNEDDS, kemudian dikeringkan bersama manitol melalui proses spray drying untuk menghasilkan bentuk padat. Pengujian toksisitas subkronis mengacu pada panduan OECD 408 dengan menggunakan 70 tikus jantan dan betina galur Wistar yang terbagi menjadi 6 kelompok. Kelompok kontrol normal dan satelit kontrol diberikan akuades, 3 kelompok perlakuan diberikan sediaan S-SNEDDS temulawak dosis 250; 500; dan 1000 mg/kgBB, dan kelompok satelit dosis tinggi diberikan sediaan S-SNEDDS temulawak dosis 1000 mg/kgBB selama 90 hari. Pengamatan dilanjutkan selama 28 hari pada kelompok satelit tanpa diberi perlakuan untuk melihat efek reversible. Parameter yang diamati meliputi gejala klinis dan kematian, berat badan dan pakan yang dikonsumsi, biokimia klinis, hematologi, pemeriksaan makropatologi, serta berat organ relatif. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan One Way Anova pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Pengamatan pada berat badan, profil biokimia klinis, serta hasil pemeriksaan hematologi dan makropatologi organ utama (limfa, paru-paru, jantung, ginjal, dan hati) menunjukkan hasil yang masih berada dalam batas normal dan tidak menunjukkan adanya ketoksikan pada hewan uji, meskipun terdapat beberapa perubahan ringan yang bersifat adaptif. Kesimpulan: S-SNEDDS temulawak tidak menyebabkan ketoksikan subkronis setelah pemberian selama 90 hari pada tikus galur Wistar.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectTemulawaken_US
dc.subjectS-SNEDDSen_US
dc.subjectOECD 408en_US
dc.titleUji Toksisitas Subkronis Ekstrak Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb.) dalam Bentuk Solid Self Nano Emulsifying Drug Delivery System (S-snedds)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21613267


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record