Analisis Jaringan Data Cuaca Harian Indonesia untuk Kajian Iklim menggunakan Detrended Cross- Correlation Analysis (DCCA) (Studi Kasus : Cuaca Periode 2010-2023)
Abstract
Perubahan iklim dan dinamika cuaca global menjadi tantangan besar bagi
kesehatan, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, pemahaman
terhadap dinamika cuaca dan iklim yakni kondisi atmosfer rata-rata jangka panjang
(±30 tahun) menjadi sangat penting, terutama di wilayah kepulauan tropis seperti
Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola variabel cuaca di Indonesia
selama periode 2010–2023, mengevaluasi hubungan jangka panjang antarwilayah,
serta menilai pengaruh letak geografis terhadap keterkaitan cuaca antarprovinsi.
Metode yang digunakan meliputi Detrended Fluctuation Analysis (DFA) untuk
mengidentifikasi memori jangka panjang pada data non-stasioner, dan Detrended
Cross-Correlation Analysis (DCCA) untuk mengukur korelasi silang antarprovinsi.
Lima variabel cuaca dianalisis: temperatur, kelembapan, curah hujan, penyinaran
matahari, dan kecepatan angin. Analisis jaringan dilakukan berdasarkan 10% nilai
DCCA tertinggi untuk memetakan keterkaitan spasial terkuat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa seluruh variabel cuaca bersifat anti-persistent pada berbagai
skala waktu, mencerminkan dinamika yang fluktuatif dan tidak stabil dalam jangka
panjang, meskipun terdapat keteraturan lokal pada skala pendek. DCCA
menunjukkan korelasi positif antarprovinsi di seluruh skala waktu, dengan
hubungan yang lebih kuat pada wilayah yang berada dalam satu pulau atau zona
cuaca dan iklim yang sama. Analisis jaringan mengungkapkan bahwa Pulau Jawa
serta Bali dan Nusa Tenggara merupakan wilayah dengan keterkaitan cuaca paling
padat dan konsisten, sedangkan Kalimantan Utara cenderung independen.
Kecepatan angin menunjukkan pola jaringan paling acak, mencerminkan dinamika
yang kompleks dan tidak selalu bergantung pada kedekatan geografis.
Collections
- Statistics [1327]
