• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Students & Alumnae
    • Undergraduate Thesis
    • Faculty of Law
    • Law
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Penerapan Akad Wakalah Dalam Pembiayaan Murabahah Pada BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS) Di Gunung Kidul

    Thumbnail
    View/Open
    21410462.pdf (4.790Mb)
    Date
    2025
    Author
    Rahayu, Silvani Fulma
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan akad wakalah dalam pembiayaan murabahah dan status kepemilikan barang dalam akad pembiayaan murabahah dengan objek sepeda motor pada BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS) di Gunung Kidul. Sebagaimana diatur dalam Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN- MUI/IV/2000 tentang Murabahah telah mengatur kewajiban bank syariah untuk memiliki barang keperluan nasabah dalam pembiayaan murabahah. Metode penelitian ini meliputi metode penelitian yuridis normatif. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Perundang-Undangan (statute approach). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan akad wakalah dalam pembiayaan murabahah jual-beli sepeda motor tidak sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah. BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS) di Gunung Kidul seharusnya membeli barang dari pihak ketiga dan selanjutnya menjual kembali sepeda motor tersebut kepada nasabah. praktiknya BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS) di Gunung Kidul memberikan uang secara cash kepada nasabah lalu memberi kuasa untuk mencari sendiri barang yang diinginkan oleh nasabah, sehingga BMT Bina Ummat Sejahtera (BUS) di Gunung Kidul diindentifikasikan riba karena dalam pembiayaan murabahah hanya sebagai pemberi modal saja bukan sebagai penjual/pemilik dari objek sepeda motor tersebut. Selain itu status kepemilikan sepeda motor pada pembiayaan murabahah dengan menggunakan akad wakalah menjadi kepemilikan nasabah, karena nasabah yang melakukan jual-beli langsung pada pihak ke-tiga. Kepemilikan objek tersebut menimbulkan permasalahan yuridis karena tidak sesuai regulasi dan ketentuan murabahah yang menimbulkan konsekuensi hukum berupa fasakh (batal), sehingga proses pembiayaan murabahah menjadi gharar/al ma’dum (tidak jelas) dan menyebabkan akad tersebut menjadi fasid (cacat).
    URI
    dspace.uii.ac.id/123456789/55543
    Collections
    • Law [3500]

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    LoginRegister

    DSpace software copyright © 2002-2015  DuraSpace
    Contact Us | Send Feedback
    Theme by 
    @mire NV