| dc.description.abstract | Suatu wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan berpotensi menjadi kawasan
dengan perkembangan dan pembangunan yang pesat. Namun, percepatan pembangunan
ini dapat menyebabkan kesenjangan antar wilayah. Salah satu upaya untuk mengatasi
masalah tersebut dengan mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan wilayah
Hinterland. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecamatan-kecamatan yang
berfungsi sebagai pusat pertumbuhan dan wilayah Hinterland serta untuk mengidentifikasi
tingkat interaksi masyarakat antar wilayah di Kabupaten Ketapang, berdasarkan
perbandingan data tahun 2020 dan 2023. Data yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan data sekunder yang diperoleh dari BPS Kabupaten Ketapang. Metode analisis
yang diterapkan adalah analisis skalogram dan analisis gravitasi, yang diolah menggunakan
Microsoft Exel 2019. Hasil analisis skalogram menunjukkan bahwa pada tahun 2020
terdapat 12 pusat pertumbuhan wilayah di Kabupaten Ketapang, yaitu Kecamatan
Kendawangan, Kecamatan Tumbang Titi, Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Kecamatan
Nanga Tayap, Kecamatan Manis Mata, Kecamatan Marau, Kecamatan Jelai Hulu,
Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Benua Kayong, Kecamatan Delta Pawan,
Kecamatan Sandai, dan Kecamatan Simpang Hulu. Sementara itu, analisis skalogram pada
tahun 2023, terdapat 14 pusat pertumbuhan wilayah di Kabupaten Ketapang, yaitu
Kecamatan Kendawangan, Kecamatan Manis Mata, Kecamatan Marau, Kecamatan Jelai
Hulu, Kecamatan Tumbang Titi, Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Kecamatan Nanga
Tayap, Kecamatan Sandai, Kecamatan Simpang Hulu, Kecamatan Matan Hilir Selatan,
Kecamatan Benua Kayong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kecamatan Delta Pawan, dan
Kecamatan Sungai Laur. Kemudian, hasil analisis gravitasi menunjukkan adanya
perbedaan nilai interaksi antar kecamatan yang menjadi pusat pertumbuhan wilayah dan
kecamatan Hinterland, yang disebabkan perbedaan jarak. | en_US |