Aspect-Based Sentiment Analysis terhadap Cuitan Platform X tentang Kurikulum Merdeka Menggunakan IndoBERT
Abstract
Perubahan kurikulum kembali terjadi dengan hadirnya Kurikulum Merdeka yang bertujuan
mengatasi learning loss di dunia pendidikan. Implementasi kurikulum ini memicu berbagai
respon, dukungan berupa kebebasan bagi guru untuk berinovasi, fokus pada materi esensial,
pembelajaran bervariasi, dan mengembangkan kreativitas siswa. Namun, kritik juga muncul
terkait banyaknya pendidik yang belum memahami konsep Kurikulum baru, kekhawatiran
orang tua, dan beban proyek yang mengurangi waktu istirahat siswa. Analisis terhadap
respons ini penting untuk memberikan masukan dan meningkatkan kebijakan pendidikan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen publik terhadap Kurikulum Merdeka
dengan menerapkan Aspect Based Sentiment Analysis (ABSA). Data dikumpulkan dari
platform X (dulu Twitter) menggunakan tools Tweet Harvest selama periode 1 Januari-31
Desember 2024, dengan keyword yang spesifik dan relevan terkait masing-masing aspek
Kurikulum Merdeka yaitu Modul Ajar, Rapor Pendidikan, Platform Merdeka Mengajar
(PMM), dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Data yang terkumpul kemudian
dilakukan pra-processing, filtering, refinement hingga pelabelan data. Total dataset yang
valid terdiri dari 22.780 tweet, dengan 14.313 tweet digunakan dalam pemodelan, dengan
distribusi seimbang untuk setiap aspek dan kategori sentimen. Selanjutnya, model ABSA
dibangun menggunakan IndoBERT dengan fine-tuning dan dievaluasi menggunakan data
latih, validasi, dan uji dengan rasio 80:10:10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model
klasifikasi aspek mencapai nilai presisi, recall, skor F1 dan akurasi sebesar 99%. Sedangkan
model klasifikasi sentimen mencapai nilai presisi, recall, skor F1 dan akurasi sebesar 86%.
Pendekatan ABSA berhasil menghubungkan sentimen tertentu dengan aspek-aspek spesifik.
Analisis mengungkapkan bahwa sentimen negatif mendominasi pada aspek P5 dan PMM,
yang mencerminkan kritik terkait beban kerja, kendala teknis, dan tantangan implementasi.
Sebaliknya, Modul Ajar dan Rapor Pendidikan menunjukkan distribusi sentimen yang lebih
seimbang. Model ABSA yang dikembangkan diharapkan dapat dipakai untuk melakukan
monitoring dan memberikan gambaran umpan balik untuk pengembangan kebijakan ke
depan, khususnya pada konteks Kurikulum Merdeka.
Collections
- Master of Informatics [368]
