Distribusi Mikroplastik di PM2,5 dan Debu Jalan Serta Estimasi Intake PM2,5 dan Mikroplastik di Area Jalan Utama Yogyakarta
Abstract
Polusi udara adalah masalah lingkungan yang dihadapi oleh setiap orang. Berkembangnya ilmu
pengetahuan membuat kejadian polusi baru (emerging pollutan) mendapatkan perhatian untuk
diteliti lebih lanjut, salah satunya tentang polutan Mikroplastik (MP). Penelitian tentang
mikroplastik sudah banyak dilakukan didunia, namun sayangnya masih kurang di Indonesia.
Keberadaan mikroplastik di udara sering disamakan dengan PM2,5 di udara dan keduanya
memiliki kemungkinan untuk masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan masalah kesehatan bagi
manusia. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat budaya, pendidikan dan wisata di Jawa
dan Indonesia memiliki penduduk tetap dan pendatang serta wisatawan yang tinggi sepanjang
tahun, hal ini menimbulkan perubahan kualitas udara khususnya dari kegiatan transportasinya.
Penelitian ini menginvestigasi sebaran PM2,5 di 3 kawasan (Terminal, Ringroad dan Wisata),
serta menginvestigasi keberadaan mikroplastik di dalam PM2,5 dan debu jalan untuk melihat
kemungkinan transfer mikroplastik antar media lingkungan. Selain itu dilakukan analisis
korelasi Spearman antara PM2,5, mikroplastik di udara, mikroplastik di debu jalan dan kondisi
cuaca lokasi penelitian. Metode pengambilan sampel PM2,5 menggunakan pedoman SNI 7119-
14-2016 untuk udara ambien, dengan pendekatan active sampling menggunakan HVAS selama
24 jam, laju alir yang digunakan sebesar 1,2 m3
/menit dengan ketinggian filter sekitar 1,2 m.
Pengambilan sampel debu jalan menggunakan sapu dan wadah non plastik untuk mendapatkan
30 gram sampel debu. Analisis sampel di laboratorium menggunakan H2O2 30% untuk
menghilangkan bahan organik dan garam KI dan NaCL untuk ekstraksi mikroplastik dari
larutan dengan metode pemisahan berat jenis. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi PM2,5
tertinggi di kawasan Wisata, lalu Terminal dan terendah di Ringroad. Kelimpahan mikroplastik
di udara tertinggi berada di kawasan Terminal, lalu Wisata dan terendah di Ringroad sedangkan
kelimpahan mikroplastik di debu jalan berdasarkan kawasan memiliki hasil yang sama dengan
PM2,5. Karakteristik utama dari mikroplatik yang ditemukan yaitu bentuk fragmen dengan
warna hitam. Hasil korelasi menunjukan PM2,5 dan mikroplastik di udara memiliki korelasi
negatif dengan tekanan udara; mikroplastik di udara berkorelasi positif dengan kelembapan
udara; dan mikroplastik di debu jalan berkorelasi positif dengan temperatur. Analisis risiko juga
dilakukan untuk debu terhirup di udara, dan didapatkan hasil risiko yang sangat rendah (RQ<1)
bagi manusia untuk PM2,5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menambah data dan
memahami sumber dan transportasi dari MP di Yogyakarta dan Indonesia.
