Show simple item record

dc.contributor.authorFuadah, Shofiatul
dc.date.accessioned2025-03-04T04:45:33Z
dc.date.available2025-03-04T04:45:33Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/55029
dc.description.abstractMalaria menjadi penyakit infeksi endemis dan global, termasuk Indonesia. Kasus resistensi terhadap artemisinin dan klorokuin mendorong eksplorasi obat malaria baru dari bahan herbal. Kulit batang faloak (Sterculia quadrifida R. Br.) telah dimanfaatkan secara empiris masyarakat lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai pengobatan tradisional malaria. Ekstrak etanol faloak dengan kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, dan saponin menunjukkan aktivitas anti plasmodium sedang (IC50 42,399 ± 9,517 μg/mL), tetapi belum optimal karena senyawanya belum terpisah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil fitokimia, menguji aktivitas penghambatan dan mekanisme aksi anti malaria Plasmodium falciparum dari ekstrak bertingkat kulit batang faloak serta menguji aktivitas anti plasmodium dari fraksi terpurifikasi yang diperoleh melalui bioassay-guided fractionation. Proses maserasi simplisia kulit batang faloak menggunakan sonikator dilakukan secara bertingkat dari pelarut n-heksana p.a., etil asetat p.a., dan etanol 96% (1:10) dan identifikasi profil fitokimia menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan pereaksi semprot. Ekstrak dengan aktivitas penghambatan paling aktif dilakukan uji mekanisme aksi dan pemisahan senyawa menggunakan KCKT preparatif untuk kemudian diuji aktivitas penghambatan. Uji aktivitas penghambatan menggunakan metode fluoresens dengan SYBR Green pada panjang gelombang eksitasi 485 nm dan emisi 528 nm. Studi mekanisme aksi penghambatan menggunakan metode Heme Polymerization Inhibitory Activity (HPIA). Analisis pengujian aktivitas penghambatan dan mekanisme aksi menggunakan probit pada SPSS untuk memperoleh nilai IC50. Ekstrak etanol 96% dan etil asetat positif alkaloid, flavonoid, fenol/tanin, dan saponin, sedangkan ekstrak n-heksana mengandung flavonoid, fenol/tanin, steroid, triterpenoid, dan terpenoid. Uji aktivitas penghambatan anti plasmodium paling aktif pada ekstrak etil asetat dengan nilai IC50 sebesar 2,38 ± 0,85 μg/mL dengan mekanisme penghambatan polimerisasi hem nilai IC50 sebesar 20,45 ± 2,06 μg/mL tingkat aktivitas sedang. Fraksi terpurifikasi 1 ekstrak etil asetat menunjukkan nilai IC50 sebesar 4,28 ± 1,56 μg/mL dengan aktivitas anti plasmodium paling poten. Dapat disimpulkan, ekstrak etil asetat kulit batang faloak memiliki aktivitas anti plasmodium paling tinggi dengan mekanisme penghambatan polimerisasi hem tingkat sedang.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectHPIAen_US
dc.subjectSterculia quadrifida R. Bren_US
dc.subjectKulit Batang Faloaken_US
dc.subjectSYBR Greenen_US
dc.subjectAnti Plasmodiumen_US
dc.titleAktivitas dan Mekanisme in Vitro Antiplasmodium Fraksi Terpurifikasi Kulit Batang Faloak (Sterculia Quadrifida R. Br.) Terhadap Plasmodium Falciparumen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM23924014


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record