Aktivitas dan Mekanisme in Vitro Antiplasmodium Fraksi Terpurifikasi Kulit Batang Faloak (Sterculia Quadrifida R. Br.) Terhadap Plasmodium Falciparum
Abstract
Malaria menjadi penyakit infeksi endemis dan global, termasuk Indonesia.
Kasus resistensi terhadap artemisinin dan klorokuin mendorong eksplorasi obat
malaria baru dari bahan herbal. Kulit batang faloak (Sterculia quadrifida R. Br.)
telah dimanfaatkan secara empiris masyarakat lokal Nusa Tenggara Timur (NTT)
sebagai pengobatan tradisional malaria. Ekstrak etanol faloak dengan kandungan
senyawa flavonoid, alkaloid, dan saponin menunjukkan aktivitas anti plasmodium
sedang (IC50 42,399 ± 9,517 μg/mL), tetapi belum optimal karena senyawanya
belum terpisah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil fitokimia,
menguji aktivitas penghambatan dan mekanisme aksi anti malaria Plasmodium
falciparum dari ekstrak bertingkat kulit batang faloak serta menguji aktivitas anti
plasmodium dari fraksi terpurifikasi yang diperoleh melalui bioassay-guided
fractionation.
Proses maserasi simplisia kulit batang faloak menggunakan sonikator
dilakukan secara bertingkat dari pelarut n-heksana p.a., etil asetat p.a., dan etanol
96% (1:10) dan identifikasi profil fitokimia menggunakan metode Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) dengan pereaksi semprot. Ekstrak dengan aktivitas
penghambatan paling aktif dilakukan uji mekanisme aksi dan pemisahan senyawa
menggunakan KCKT preparatif untuk kemudian diuji aktivitas penghambatan. Uji
aktivitas penghambatan menggunakan metode fluoresens dengan SYBR Green
pada panjang gelombang eksitasi 485 nm dan emisi 528 nm. Studi mekanisme aksi
penghambatan menggunakan metode Heme Polymerization Inhibitory Activity
(HPIA). Analisis pengujian aktivitas penghambatan dan mekanisme aksi
menggunakan probit pada SPSS untuk memperoleh nilai IC50.
Ekstrak etanol 96% dan etil asetat positif alkaloid, flavonoid, fenol/tanin, dan
saponin, sedangkan ekstrak n-heksana mengandung flavonoid, fenol/tanin, steroid,
triterpenoid, dan terpenoid. Uji aktivitas penghambatan anti plasmodium paling
aktif pada ekstrak etil asetat dengan nilai IC50 sebesar 2,38 ± 0,85 μg/mL dengan
mekanisme penghambatan polimerisasi hem nilai IC50 sebesar 20,45 ± 2,06 μg/mL
tingkat aktivitas sedang. Fraksi terpurifikasi 1 ekstrak etil asetat menunjukkan nilai
IC50 sebesar 4,28 ± 1,56 μg/mL dengan aktivitas anti plasmodium paling poten.
Dapat disimpulkan, ekstrak etil asetat kulit batang faloak memiliki aktivitas anti
plasmodium paling tinggi dengan mekanisme penghambatan polimerisasi hem
tingkat sedang.
Collections
- Master of Pharmacy [32]
